Jakarta – Seorang wanita lanjut usia berinisial Y (63) meninggal dunia setelah kelelahan mengantre gas bersubsidi 3 kg di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, Senin (3/1). Korban diketahui mulai mengantre sejak pagi di salah satu pangkalan dekat rumahnya di Jalan Beringin, RT01 RW07, Pamulang Barat.
Antrean panjang yang mengular membuat fisik Y kelelahan. Saat dalam perjalanan pulang, ia jatuh pingsan dan sempat mendapat pertolongan warga sekitar. Meski telah dilarikan ke rumah sakit, nyawanya tidak tertolong.
“Meninggalnya tadi siang,” ujar Tomi, warga sekitar.
Menurutnya, Y sempat duduk beristirahat setelah mendapatkan tabung gas, namun tak lama kemudian tubuhnya ambruk.
Kelangkaan gas bersubsidi di Tangerang Selatan menyebabkan antrean panjang di hampir semua pangkalan. Warga berbondong-bondong datang sejak pagi karena sulit mendapatkan gas 3 kg akibat kebijakan baru pemerintah yang melarang pengecer menjual isi ulang gas melon, sehingga hanya bisa diperoleh di pangkalan resmi.
Kebijakan tersebut menuai kritik, terutama setelah jatuhnya korban jiwa. Ketua LBH Keadilan, Abdul Hamim Jauzie, menilai bahwa pemerintah belum siap dalam mekanisme distribusi dan penjualan gas subsidi.
“Pemerintah mungkin memiliki tujuan baik agar subsidi tepat sasaran, namun kelangkaan gas dan gejolak masyarakat menunjukkan bahwa sistem distribusi masih bermasalah,” jelas Hamim.
Ia menambahkan, meninggalnya Y menjadi bukti nyata bahwa negara belum sepenuhnya menjamin keselamatan warga dalam mendapatkan hak subsidi energi.
Peristiwa ini menambah keresahan masyarakat yang semakin sulit mendapatkan gas bersubsidi, sehingga pemerintah diharapkan segera meninjau ulang kebijakan distribusi agar tidak merugikan rakyat kecil.















