Banjarbaru – Indonesia menempati posisi kedua tertinggi di dunia setelah Tiongkok dalam jumlah penderita diabetes usia 20–79 tahun. Berdasarkan data IDF 2021, jumlah penderita diabetes di Indonesia mencapai 19,5 juta orang. Riskesdas 2023 mencatat prevalensi diabetes pada usia ≥15 tahun sebesar 2,2 persen. Angka tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kalimantan Selatan menjadi salah satu daerah dengan tren kasus diabetes tertinggi di Indonesia. Pada tahun 2023, jumlah kasus diabetes di Kalimantan Selatan melonjak dari 15.930 menjadi 26.667 kasus. Kabupaten Banjar tercatat sebagai wilayah dengan kasus tertinggi, yakni mencapai 4.361 kasus. Studi awal di fasilitas kesehatan Banjarbaru pada 3 Oktober 2025 menunjukkan bahwa 60 persen amputasi terjadi akibat luka kaki diabetes yang terlambat ditangani.
“Sebagian besar pasien datang saat luka sudah parah. Padahal, amputasi bisa dicegah bila luka dirawat lebih dini dengan prinsip moist wound healing,” ujar Ns. Irfan Maulana, S.Kep., M.Kep. selaku salah seorang tenaga kesehatan.
Masyarakat Banjar secara turun-temurun menggunakan daun Ambaratan untuk mengobati berbagai jenis luka, termasuk luka diabetes. Mereka biasanya menguleknya atau menempelkannya langsung pada bagian luka sambil membacakan doa atau wirid. Jumlah helai daun yang digunakan sering dipilih ganjil sebagai simbol religius dan kepercayaan lokal.

Penelitian tim PKM RSH PRODI KEPERAWATAN FKIK ULM menemukan empat tema utama:
- Sistem Pengetahuan Lokal: 70% masyarakat menekankan dimensi spiritual (daun sebagai perantara, doa sebagai inti), 30% mengaitkan aspek ilmiah seperti sugesti dan endorfin.
- Praktik Budaya: 80% penggunaan daun selalu disertai doa/wirid, tanpa takaran baku.
- Persepsi dan Risiko: 65% menilai daun membantu kesembuhan, 25% menyadari risiko keterlambatan perawatan, 10% menggabungkan medis dan tradisi.
- Faktor Sosial-Ekonomi: 70% memilih daun karena murah, tersedia di pekarangan, dan menjadi keputusan keluarga.
“Ini media saja, ibaratnya perantara. Yang menyembuhkan tetap Allah,” ujar Pak Muhammad Hendra salah satu tokoh Ahli Pengobatan Tradisional.
Integrasi dengan Layanan Medis
Tenaga kesehatan mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam menggunakan daun Ambaratan tanpa pendampingan medis. Penggunaan daun tersebut secara langsung pada luka dapat menghambat kerja sel imun dan memperlambat pembentukan jaringan baru.Kini, sebagian warga mulai memadukan tradisi pengobatan dengan doa serta layanan medis modern.
Tokoh agama turut menegaskan pentingnya menggabungkan ikhtiar spiritual dengan upaya medis untuk hasil penyembuhan yang optimal.
“Jika luka makin parah, jangan dipaksakan. Segera ke rumah sakit. Islam melarang melemparkan diri ke kebinasaan,” kata Ibu Maisarah tokoh Ahli Agama.
Pesan untuk Masyarakat Banjar:
- Kenali luka sejak dini. Luka kecil pada penderita diabetes bisa berbahaya bila diabaikan.
- Jaga kadar gula darah. Pola makan manis yang berlebihan memperparah risiko luka.
- Gunakan layanan kesehatan. Jangan menunggu luka parah baru ke rumah sakit.
- Hormati budaya, selaraskan dengan medis.Daun Ambaratan tetap dapat dijadikan simbol doa dan ikhtiar dalam proses penyembuhan.
Kearifan lokal Banjar melalui penggunaan daun Ambaratan mencerminkan kekayaan budaya dan identitas masyarakat.
Selain itu, Tenaga kesehatan menegaskan bahwa perawatan medis tetap diperlukan untuk mencegah amputasi. Masyarakat diingatkan agar tidak hanya mengandalkan tradisi dalam mengobati luka kaki diabetes. Kolaborasi antara budaya, tenaga kesehatan, dan keluarga menjadi kunci utama dalam mencegah amputasi. Semua pihak diajak untuk menjaga kesehatan kaki agar tetap dapat melangkah tanpa kehilangan jati diri maupun masa depan.















