Banjarbaru – Sosok inspiratif kembali lahir dari Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan (UNUKASE). Abdi Suryani, mahasiswa semester empat Program Studi Agribisnis, berhasil mengharumkan nama Kalimantan Selatan lewat cabang olahraga menembak.
Abdi bukan berasal dari latar belakang yang mudah. Ia penerima beasiswa KIP Kuliah sejak 2023 dan tumbuh dalam keluarga kurang mampu di Desa Gunung Antasari, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanah Bumbu. Anak bungsu dari tiga bersaudara ini telah akrab dengan kerasnya hidup sejak kecil.
Saat usianya baru satu tahun, ia mengalami kecelakaan yang membuat tangan kirinya harus diamputasi. Kala itu, ia sedang digendong menggunakan jarik di atas sepeda motor. Kain yang mengikat tubuhnya tersangkut ke dalam rantai roda, menyebabkan luka parah yang tak bisa diselamatkan.
Meski kehilangan tangan di usia dini, Abdi tumbuh menjadi anak yang ceria dan pantang menyerah. Cobaan belum usai. Ketika duduk di bangku kelas 4 SD, ibunya meninggal dunia.
Sejak itu, sang ayah, seorang sopir truk sawit berjuang seorang diri. Tantenya mengasuh Abdi, dan sejak SMK, Abdi mulai bekerja di bengkel motor dengan sistem borongan untuk membiayai sekolahnya sendiri.
Titik terang datang saat ia mengenal olahraga menembak pada kelas XI. Tahun 2022, Abdi merebut juara I di ajang Pekan Paralympic Provinsi (Peparprov) IV Kalimantan Selatan di Hulu Sungai Selatan. Sejak itu, prestasinya terus menanjak.
Puncaknya terjadi di Peparnas XVII Solo 2024. Abdi merebut medali perak di nomor R4 – 10 meter Air Rifle Standing Mixed SH-2. Ia kalah tipis, hanya 0,9 poin dari atlet nasional asal Papua, Affni Ramadhan. Laga final yang berlangsung di Harris Hotel Solo itu menjadi momen bersejarah dalam kariernya.
Dukungan Kampus dan Harapan Besar
Rektor UNUKASE, Dr. Ir. H. Abrani Sulaiman, M.Sc., menyempatkan hadir langsung mendukung Abdi saat latihan di NPC Archery Training Center Banjarbaru, Sabtu (2/8/2025). Ia menyebut Abdi sebagai contoh nyata bahwa keterbatasan bukanlah halangan.
“Abdi telah membuktikan bahwa semangat dan ketekunan bisa mengalahkan keterbatasan,” ujar Rektor Abrani, Sabtu (2/8/2025).
Pelatihnya, Gina Faritha, juga tak menutupi rasa bangganya.
“Abdi sempat mengalami penurunan fokus, tapi dia mampu bangkit. Kami yakin dia bisa menembus level dunia,” ucap Gina.
Tak hanya Abdi, Kalimantan Selatan juga bersinar lewat tiga atlet paralimpik lainnya: Mahyudi, Mulyani, dan Jannah, yang sama-sama menyumbang medali perak dalam ajang Seleksi Nasional (Seleknas).
Ketua NPCI Kalsel, Sumansyah, menyebut pencapaian ini sebagai tonggak baru bagi olahraga difabel di Banua.
“Ini bukti bahwa atlet difabel kita punya potensi besar. Harapannya, makin banyak yang tembus Pelatnas dan ajang internasional,” katanya.
Prestasi NPCI Kalsel memang tengah menanjak. Sebelumnya, dua atlet muda, Udri dan Nor Nazwa, juga sukses merebut medali emas pada World Abilitysport Games di Songkhla, Thailand.
Kisah Abdi Suryani bukan sekadar tentang kemenangan di arena. Ia mewujudkan cerita tentang keberanian, keteguhan hati, dan semangat tak kenal menyerah yang layak diteladani.
(Humas UNUKASE / mpd)















