Banjarmasin – Volume sampah di Kota Banjarmasin mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini terlihat dari tumpukan sampah di sejumlah Tempat Pembuangan Sementara (TPS), terutama di kawasan padat penduduk seperti Kelurahan Pelambuan, HKSN, Sungai Andai, dan sejumlah titik lainnya.
Penumpukan sampah tersebut memicu keluhan warga. Selain menimbulkan bau tak sedap, juga memicu kemunculan lalat dan tikus. Situasi ini menjadi perhatian Dewan Pengurus Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa (DPW PKB) Kalimantan Selatan.
“Kami prihatin. Masalah ini muncul karena warga kesulitan membuang sampah ke tempat semestinya akibat penutupan TPA Basirih,” kata Suripno Sumas, Wakil Ketua DPW PKB Kalsel, Senin, (06/05/25).
Suripno yang juga anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan mendorong pemerintah segera bertindak. Ia mengusulkan sejumlah langkah alternatif, seperti peningkatan edukasi soal pengelolaan sampah nonorganik dan mendorong program transportasi publik berbasis insentif sampah.
“Misalnya, masyarakat bisa menggunakan angkutan umum cukup dengan menukarkan sampah terpilah seberat tiga kilogram. Ini sekaligus mendorong kesadaran daur ulang,” ujar Suripno.
Ia juga menyarankan agar dalam setiap kegiatan DPRD, selalu diselipkan imbauan tentang pemilahan sampah.
“Upaya kecil yang konsisten bisa berdampak besar bagi pengelolaan sampah di masa depan,” tambahnya.
Penutupan TPA Basirih oleh pemerintah sebelumnya dilakukan dengan alasan teknis dan kapasitas. Namun, dampaknya kini dirasakan langsung oleh warga.
Permasalahan Volume sampah di Banjarmasin ini dinilai perlu segera ditangani secara sistematis dan melibatkan berbagai pihak, termasuk masyarakat.
(Dana Aswadi)

