Banjarmasin – Proses pengobatan yang panjang dan berulang kerap menjadi tantangan tersendiri bagi anak-anak penyandang Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) atau leukemia limfoblastik akut. Selain harus menjalani kemoterapi dan perawatan intensif, mereka juga rentan mengalami kecemasan hingga trauma selama berada di rumah sakit.
Melihat kondisi tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat dari Kompartemen Keperawatan Anak Jurusan Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menggelar kegiatan edukasi dan terapi bermain di Ruang Hematologi-Onkologi Anak RSUD Ulin Banjarmasin, Sabtu (06/06/2026).
Melalui program bertajuk “The Power of Bubble”, tim dosen ULM memperkenalkan bubble blowing therapy atau terapi meniup gelembung sabun kepada orang tua dan anak-anak penderita leukemia sebagai salah satu metode sederhana untuk membantu mengurangi kecemasan selama menjalani pengobatan.
Ketua Tim Pengabdian, Rifda Nur Achriyana Arif, Ns., M.Kep., menjelaskan bahwa ALL merupakan jenis kanker yang paling banyak ditemukan pada anak usia di bawah 15 tahun. Meski tingkat harapan hidup penderita kini terus meningkat, berbagai prosedur medis yang harus dijalani sering kali menimbulkan tekanan psikologis.
Menurut Rifda, kecemasan yang tidak ditangani dengan baik dapat berdampak pada kondisi anak, mulai dari gangguan tidur, berkurangnya nafsu makan, hingga penolakan terhadap tindakan medis.
“Terapi meniup gelembung sabun merupakan metode sederhana dan mudah dilakukan. Saat anak menarik napas dalam lalu mengembuskannya untuk meniup gelembung, tubuh akan mengaktifkan sistem saraf parasimpatis yang membantu menurunkan stres dan memberikan efek relaksasi,” jelasnya.
Ia menambahkan, gelembung yang melayang di udara juga berfungsi sebagai distraksi positif sehingga perhatian anak teralihkan dari rasa takut maupun kecemasan yang sedang dialami.
Kegiatan berlangsung secara interaktif. Para orang tua terlebih dahulu mendapatkan edukasi mengenai penyakit leukemia anak serta cara mengenali tanda-tanda kecemasan selama masa perawatan. Setelah itu, anak-anak diajak mempraktikkan teknik meniup gelembung dengan pola pernapasan yang benar.
Dalam pelaksanaannya, Rifda didampingi oleh Sapariah Anggraini, Ns., M.Kep., dan Windy Yuliana Budianto, Ns., M.Biomed. Tim juga melakukan evaluasi melalui pengukuran tingkat pengetahuan orang tua serta penilaian tingkat kecemasan anak sebelum dan sesudah intervensi.
Suasana Ruang Hematologi-Onkologi Anak yang biasanya dipenuhi ketegangan berubah menjadi lebih ceria. Gelak tawa anak-anak terdengar saat mereka berusaha menciptakan gelembung sabun yang beterbangan di sekitar ruang perawatan.
Salah satu orang tua pasien mengaku mendapatkan manfaat langsung dari pelatihan tersebut. Ia menilai metode yang diajarkan mudah diterapkan baik di rumah maupun saat anak menjalani perawatan di rumah sakit.
“Biasanya anak saya sangat tegang ketika melihat jarum suntik atau menjelang kemoterapi. Hari ini dia bisa tertawa dan menikmati permainan gelembung. Ternyata cara sederhana ini punya manfaat kesehatan yang besar,” ujarnya.
Kegiatan tersebut juga mendapat apresiasi dari pihak RSUD Ulin Banjarmasin. Kepala Ruangan Hematologi-Onkologi Anak, Ns. Ayu Susanti, menyambut baik kolaborasi yang dilakukan tim Keperawatan Anak FKIK ULM.
Menurutnya, terapi bermain seperti bubble blowing therapy tidak hanya menjadi sarana hiburan bagi anak, tetapi juga membantu mengurangi rasa takut selama proses pengobatan sekaligus memberikan edukasi kepada orang tua.
Melalui kegiatan ini, tim pengabdian FKIK ULM berharap para orang tua dapat menjadi pendamping utama dalam menjaga kondisi psikologis anak selama menjalani pengobatan, sehingga kualitas hidup dan keberhasilan terapi dapat semakin optimal.















