Setelah Taliban Berkuasa, Penerbangan Domestik di Afghanistan Berangsur Pulih

- Penulis

Minggu, 5 September 2021 - 15:42 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pelitanusantara.net – JAKARTA – Penerbangan domestik di Afghanistan dikabarkan telah kembali beroperasi setelah bandara Kabul dibuka untuk pengiriman bantuan dan layanan domestik.

Maskapai asal AfghanistanAriana Afghan Airlines, juga telah melakukan penerbangan domestik dari Kabul ke beberapa kota besar di negara tersebut, Sabtu (4/9/2021).

Pihak maskapai menyebutkan, penerbangan ini berlangsung setelah tim teknis dari Qatar membuka kembali bandara Kabul untuk mengirimkan bantuan dan layanan domestik ke Afghanistan.

Mengutip dari laman situs Channel News Asia pada Minggu (5/9/2021), maskapai Ariana Afghan Airlines melakukan penerbangan antara Kabul dan kota barat Herat, Mazar-i Sharif di Afghanistan Utara dan Kandahar.

Kembali dibukanya bandara Kabul ini, memberikan kehidupan lagi di wilayah Afghanistan terutama di kawasan pegunungan yang menjadi prioritas bagi Taliban.

Taliban sendiri berusaha memulihkan ketertiban di Afghanistan setelah berhasil menguasai Kabul pada 15 Agustus 2021.

Bandara Kabul telah ditutup sejak berakhirnya pengangkutan udara besar-besaran yang dipimpin Amerika Serikat (AS) terhadap warganya, warga negara Barat lain, dan warga Afghanistan yang membantu negara-negara Barat.

Berakhirnya evakuasi puluhan ribu orang itu menandai penarikan pasukan AS terakhir dari Afghanistan setelah 20 tahun perang.

Ribuan orang yang ingin meninggalkan Afghanistan karena takut dengan kehidupan mereka di bawah pemerintahan Taliban, tertinggal ketika operasi evakuasi berakhir pada akhir Agustus.

Padahal Taliban telah menjanjikan perjalanan yang aman bagi mereka yang ingin pergi dari negara itu.

Afghanistan Dibayangi Predikat Negara Gagal

Kelompok Taliban telah berhasil menduduki hampir seluruh wilayah Afghanistan, termasuk ibu kota negara itu, Kabul.

Konflik berkepanjangan yang terjadi di Afghanistan berujung pada predikat failed state atau negara gagal.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Muhammad Zulfikar Rahmat mengatakan Afghanistan sudah bisa disebut sebagai negara gagal.

Baca Juga:  Sikap Tegas! Indonesia Menentang Usulan Relokasi Paksa Palestina

Menurutnya, ada banyak hal yang mendefinisikan kegagalan di negeri dengan julukan kuburan kekaisaran.

“Hampir separuh penduduk Afghanistan hidup di bawah garis kemiskinan. Food insecurity juga menjadi masalah akut yang terjadi,” ucap Zulfikar dalam diskusi virtual, Jumat (3/9/2021).

Afghanistan juga mencatat defisit perdagangan lebih kurang 30 persen dari Gross Domestic Product (GDP).

“Pemerintahan terlalu tergantung terhadap bantuan asing. Jadi 80 persen dana yang ada di Afghanistan adalah bantuan asing,” urainya.

Hal ini berdampak pada pengembangan private sector hingga diversifikasi menjadi sulit direalisasikan.

Ditambah lagi institusi pemerintah yang lemah, tidak ada pembangunan infrastruktur serta korupsi membuat Afghanistan makin terpuruk.

Menurut doing business survey, Afghanistan menempati ranking ke-173 dari total 190 negara.

“Posisi ini cukup rendah. GDP tercatat menempati urutan 213 dari 228 negara. Ini mempengaruhi angka pengangguran yang sangat besar di Afghanistan,” kata Zulfikar.

Ilustrasi: Anggota unit militer Taliban Badri 313 mengamankan bandara mengenakan seragam militer AS, di Kabul, Selasa (31 Agustus 2021)

Ambil Alih Kekuasaan

Ada beberapa faktor kelompok Taliban dapat menguasai Afghanistan. Rangkuman beberapa literasi bahwa Taliban memiliki strategi perang dan legitimasi masyarakat.

Pemerintahan Afghanistan yang korupsi membuat masyarakat hilang kepercayaan.

“Masyarakat Afghanistan bahkan menganggap pemerintah di Kabul adalah puppet regime atau pemerintah yang dibentuk oleh Amerika Serikat sehingga tidak bisa dipercaya,” ucap Zulfikar.

Faktor terakhir yakni mundurnya Amerika Serikat dari Afghanistan.

Intervensi AS ke Afghanistan dinilai juga menjadi pemantik masyarakat untuk mengusir penjajah.

Afghanistan mengalami masa intervensi asing selama lebih dari 20 tahun.

“Di mana pun negara ketika dijajah negara asing, tentunya rakyat cenderung mengkudeta penjajah tersebut,” kata dosen Universitas Islam Indonesia ini.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Setelah Taliban Berkuasa, Penerbangan Domestik di Afghanistan Berangsur Pulih, https://www.tribunnews.com/internasional/2021/09/05/setelah-taliban-berkuasa-penerbangan-domestik-di-afghanistan-berangsur-pulih?page=3.
Penulis: Hari Darmawan
Editor: Adi Suhendi

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Di Tengah Konflik Global, Indonesia Selenggarakan Doa Bersama Lintas Agama Demi Perdamaian
WARISAN NUKLIR DAN KRISIS IKLIM DI KEPULAUAN MARSHALL, KOALISI GLOBAL LINTAS BENUA BERSIDANG
Penguatan Daerah Jadi Fokus, APPMBGI Resmikan Kepengurusan Sejumlah Provinsi dan Kabupaten/Kota
Usai dari Balangan, Wakil Presiden Gibran Lanjutkan Peninjauan Banjir ke Kabupaten Banjar
Wakil Presiden Gibran Soroti Pemulihan Pendidikan Saat Meninjau Banjir Balangan
Tidak Hanya Soal Bansos, DPR Minta Program Pemulihan Peternak Dibuat Jangka Panjang
Di Hadapan PBNU, Rektor UNUKASE Beberkan Strategi Penguatan Pendidikan Tinggi NU
SMSI Gaungkan Peran Media Siber dalam Menjaga Marwah Pers Nasional

Berita Terkait

Sabtu, 14 Februari 2026 - 19:15 WITA

DWP Tanah Bumbu Sosialisakan Cegah Anak Kecanduan Smartphone

Rabu, 3 Desember 2025 - 17:17 WITA

Peringatan HUT Tala ke-60, Bupati Rahmat Trianto Imbau Masyarakat dan Perusahaan Ucapkan Hari Jadi Tala dengan Bunga Hidup, Bukan Karangan

Sabtu, 11 Oktober 2025 - 22:38 WITA

Desa Sarimulya Meraih Predikat Terbaik dalam Adipura Lokal Tanah Bumbu 2025

Selasa, 1 Juli 2025 - 15:04 WITA

STIKES Intan Martapura Gelar Pelatihan BTCLS bagi Mahasiswa Keperawatan Semester Akhir

Jumat, 21 Maret 2025 - 19:56 WITA

Pererat Hubungan, UNUKASE Hadiri Buka Puasa Bersama Polda Kalsel

Senin, 10 Maret 2025 - 12:08 WITA

Pemkab Tanbu Alokasikan Rp64 Miliar Dukung Program MBG

Sabtu, 25 Januari 2025 - 04:10 WITA

Ahmad Muzani: IKN Akan Jadi Ibu Kota Politik pada 2028

Senin, 20 Januari 2025 - 10:45 WITA

Seminar Proposal UNUKASE: Merupakan Puncak dari Proses Akademik

Berita Terbaru

HWPL menyelenggarakan “DPE–HWPL Peace Education Teacher Graduation Ceremony” di Maseru lesotho pada (13/03/2026).

Internasional

HWPL Selenggarakan Wisuda Guru Pendidikan Perdamaian di Lesotho

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:45 WITA

HWPL Global Branch 12 menyelenggarakan kegiatan “2026 HWPL Cambodia Religious Youth Peace Camp” di Asia Euro University, Phnom Penh, Kamboja

Internasional

Kamp Pendidikan Perdamaian Agama Digelar di Phnom Penh, Kamboja

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:37 WITA

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x