Jakarta – Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan (UNUKASE), Dr. Ir. H. Abrani Sulaiman, M.Sc., menghadiri audiensi bersama Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Rapat Adelina Sau, Kementerian P2MI, Jakarta, Rabu (10/06/2026).
Delapan perguruan tinggi di Kalimantan Selatan mengikuti audiensi tersebut. Acara terlaksana dalam rangka memperkuat kolaborasi pembentukan Migrant Center. Selain itu, guna membangun ekosistem pelindungan dan penempatan pekerja migran Indonesia yang profesional, aman, dan terlindungi.
Selain UNUKASE, perwakilan dari UIN Antasari Banjarmasin, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, UNISKA MAB, Universitas Sari Mulia, Universitas Achmad Yani Banjarmasin, Universitas Terbuka Banjarmasin, dan Universitas Borneo Lestari turut menghadiri acara ini.
Dalam pertemuan tersebut, Menteri P2MI menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis pemerintah. Dalam menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi global dan siap bekerja di berbagai negara tujuan secara prosedural serta sesuai standar internasional.
Rektor UNUKASE, Dr. Ir. H. Abrani Sulaiman, M.Sc., menyambut baik inisiatif Kementerian P2MI yang melibatkan perguruan tinggi dalam pengembangan Migrant Center. Menurutnya, program tersebut sejalan dengan komitmen UNUKASE dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik. Akan tetapi, juga memiliki daya saing di tingkat nasional maupun internasional.
“UNUKASE mendukung penuh upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pekerja migran Indonesia. Melalui kolaborasi ini, perguruan tinggi dapat berperan aktif dalam memberikan edukasi, pelatihan kompetensi, penguatan karakter, serta pendampingan kepada calon pekerja migran agar mampu bersaing secara profesional di pasar kerja global,” ujar Abrani.
Lebih lanjut, Abrani menegaskan bahwa pembentukan Migrant Center di lingkungan perguruan tinggi dapat menjadi sarana penting untuk memberikan informasi yang benar terkait peluang kerja luar negeri, pengembangan keterampilan, pelatihan bahasa asing, hingga aspek perlindungan hukum bagi calon pekerja migran.
Menurutnya, Kalimantan Selatan memiliki potensi sumber daya manusia yang besar . Oleh karena itu, perlu mendapat dukungan melalui program-program yang mampu membuka akses kerja yang lebih luas bagi generasi muda.
Melalui sinergi antara Kementerian P2MI dan perguruan tinggi, diharapkan lahir talenta-talenta muda Indonesia yang memiliki kompetensi menengah dan tinggi, mampu bersaing di pasar kerja internasional, serta menjadi pekerja migran yang profesional, aman, dan bermartabat.
Oleh karena itu, audiensi ini menjadi langkah awal penguatan kerja sama antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam membangun ekosistem pekerja migran Indonesia yang berkualitas, sekaligus memperluas kontribusi kampus dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.















