MBG, Good Governance, dan Prioritas Pembangunan SDM Indonesia

- Penulis

Sabtu, 25 Juli 2026 - 07:57 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Azhualdi Ahmad Naufal Kader HMI Cabang Banjarmasin

OPINI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan strategis pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak, menekan angka stunting, dan mempersiapkan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Secara normatif, tujuan tersebut patut diapresiasi karena kualitas gizi merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan produktivitas bangsa. Bahkan, prevalensi stunting Indonesia telah menunjukkan tren penurunan hingga sekitar 19,8% pada 2024, sehingga upaya perbaikan gizi memang perlu dilanjutkan.

Namun demikian, kebijakan publik tidak hanya diukur dari niat baik, melainkan juga dari kualitas tata kelola (good governance) dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasinya. Di sinilah muncul berbagai kritik terhadap implementasi MBG.

Dalam prinsip good governance, sebuah kebijakan idealnya disusun berdasarkan kajian ilmiah, uji coba yang memadai, transparansi anggaran, mitigasi risiko, serta sistem pengawasan yang kuat. Sebaliknya, apabila evaluasi baru dilakukan setelah muncul berbagai persoalan di lapangan termasuk kasus keracunan makanan di sejumlah daerah,maka publik wajar mempertanyakan apakah manajemen risiko telah dirancang secara optimal sejak awal. Berbagai laporan media menunjukkan bahwa pemerintah sendiri kemudian melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas makanan, standar keamanan pangan, hingga mekanisme distribusi agar kejadian serupa tidak terulang.

Selain aspek tata kelola, isu lain yang menjadi perhatian adalah prioritas anggaran negara. MBG merupakan salah satu program dengan alokasi anggaran terbesar dalam APBN. Pemerintah bahkan beberapa kali melakukan penyesuaian anggaran untuk meningkatkan efisiensi karena besarnya beban fiskal program tersebut. Pada 2026, anggaran MBG direvisi turun dari rencana awal setelah dilakukan evaluasi terhadap efektivitas pelaksanaan dan kemampuan fiskal negara.

Baca Juga:  Perempuan dan Perjalanan Mengenal Diri

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai keseimbangan prioritas pembangunan. Indonesia memang membutuhkan anak-anak yang sehat dan bebas dari kelaparan. Akan tetapi, pembangunan sumber daya manusia tidak hanya ditentukan oleh gizi, melainkan juga oleh akses pendidikan, kualitas guru, literasi, riset, perpustakaan, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kualitas pendidikan dan literasi masih menjadi tantangan di berbagai wilayah Indonesia, sehingga investasi pada sektor pendidikan tetap harus menjadi prioritas strategis.

Karena itu, pembangunan SDM tidak boleh dipahami sebagai pilihan antara “perut” atau “otak”, melainkan bagaimana negara mampu memenuhi keduanya secara seimbang. Anak yang kenyang tetapi memperoleh pendidikan yang rendah tidak akan mampu bersaing pada era ekonomi berbasis pengetahuan. Sebaliknya, pendidikan yang baik juga sulit dicapai apabila anak mengalami kekurangan gizi. Oleh sebab itu, gizi dan pendidikan seharusnya berjalan beriringan sebagai dua investasi utama pembangunan manusia.

Kritik terhadap MBG bukan berarti menolak tujuan program tersebut. Kritik justru diperlukan agar pemerintah terus memperbaiki tata kelola melalui perencanaan berbasis data, pengawasan yang transparan, pelibatan ahli gizi, akademisi, pemerintah daerah, serta evaluasi yang dilakukan sebelum muncul korban, bukan sesudahnya. Dengan demikian, program yang baik tidak kehilangan legitimasi hanya karena lemahnya implementasi.

Pada akhirnya, keberhasilan Indonesia Emas 2045 tidak cukup diukur dari besarnya anggaran yang dikeluarkan, melainkan dari seberapa efektif anggaran tersebut menghasilkan generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing. Program MBG akan menjadi kebijakan yang benar-benar berhasil apabila dijalankan berdasarkan prinsip good governance, akuntabilitas, efektivitas, dan efisiensi, sehingga setiap rupiah yang dibelanjakan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Berita Terkait

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo: Saatnya Memperkuat Ekonomi Rakyat Lewat Kepastian Hukum dan Kemudahan Berusaha
PEMAKLUMAN GANGGUAN AIR BERSIH TIDAK MENGHAPUS TANGGUNG JAWAB PAM BANDARMASIH
MBG di Hulu Sungai Utara: Upaya Cegah Stunting dan Tingkat Presentasi Belajar
MBG DAN ANGGARAN RAKSASA: SIAPA YANG SUNGGUH DIUNTUNGKAN?
Program Makan Bergizi Gratis dalam Perspektif Kebiijakan Publik Menimbang Manfaat Sosial, Efektifitas Implementasi dan Risiko terhadap Ketahanan Fiskal Negara
Transformasi Gizi Nasional: Menakar Progres, Tantangan, dan Dampak Strategis Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tengah Dinamika Kebijakan
Menakar Realitas Makan Bergizi Gratis di Bumi Agung: Antara Retorika Nasional dan Tantangan Lokal
MBG di Hulu Sungai Utara: Menakar Kebijakan, Anggaran, dan Dampaknya bagi Masyarakat

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:04 WITA

Bupati Tanah Bumbu Andi Rudi Latif Luncurkan Kredit Tanpa Bunga untuk UMKM

Minggu, 25 Oktober 2026 - 20:14 WITA

Sambangi Polres Tanah Bumbu, Siswa SMP Muhammadiyah Dapat Edukasi Kenakalan Remaja

Minggu, 25 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Ketua TP PKK Andi Irmayani Rudi Latif Serahkan Bantuan bagi Warga Terdampak Kebakaran di Gang Andalas

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:16 WITA

Jawaban Bupati atas Fraksi DPRD, RAPBD Tanah Bumbu 2027 Fokus Program Prioritas

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:04 WITA

Bupati Tanah Bumbu Andi Rudi Latif Tekankan Kesiapan Kerja Lulusan Politeknik Batulicin

Minggu, 25 Oktober 2026 - 16:43 WITA

DWP Tanah Bumbu Gelar Pertemuan Rutin, Anggota Ikuti Pelatihan Tata Rias

Minggu, 25 Oktober 2026 - 16:04 WITA

Tanah Bumbu Raih Juara II Kalsel Innovation Award 2026, Detektor Karhutla Jadi Unggulan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:59 WITA

Jarak Masjid Jadi Pertimbangan, KPU Tanah Bumbu Kini Dilengkapi Musala

Berita Terbaru

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x