Jejak Gelar Haji di Masa Kolonial Belanda: Dari Simbol Perlawanan hingga Identitas Sosial

- Penulis

Sabtu, 10 Juni 2023 - 18:08 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi sejarah gelar Haji di Indonesia, menggambarkan perjalanan umat Muslim dari masa penjajahan Belanda hingga kemerdekaan Sumber :https://umrahbandung.id/

Ilustrasi sejarah gelar Haji di Indonesia, menggambarkan perjalanan umat Muslim dari masa penjajahan Belanda hingga kemerdekaan Sumber :https://umrahbandung.id/

Sejarah – Gelar “Haji” punya makna besar dalam kehidupan umat Islam Indonesia. Tak sekadar penanda ibadah ke Tanah Suci, gelar ini juga mencerminkan perjuangan panjang umat Muslim, terutama di era penjajahan Belanda.

Di tengah tekanan kolonial, gelar Haji justru menjadi simbol perlawanan kultural dan identitas keagamaan masyarakat pribumi.

Dalam artikel ini, mari pelitanusanta.net mengulas bagaimana gelar Haji berkembang di Indonesia selama masa kolonial, serta bagaimana status sosial dan religius ini bertahan hingga kini.

1. Haji di Tengah Kendali Kolonial

Di bawah kekuasaan Belanda, agama Islam kerap dipandang sebagai kekuatan yang bisa menggerakkan massa. Pemerintah kolonial mengizinkan ibadah haji tetap berjalan, namun dengan pengawasan ketat.

Tujuannya jelas, mencegah berkembangnya ide-ide perlawanan dari luar negeri yang bisa dibawa pulang para jamaah.

Hanya segelintir orang yang mampu berangkat ke Mekkah, membuat gelar Haji menjadi sesuatu yang eksklusif. Pemilik gelar ini sering mendapat tempat terhormat di tengah masyarakat.

“Seorang yang sudah pergi ke Mekkah dan bergelar Haji biasanya dipandang lebih tinggi dalam masyarakat desa, karena dianggap lebih saleh dan berilmu.”
— Snouck Hurgronje, orientalis Belanda, dalam catatannya tentang Islam di Hindia Belanda.

2. Haji Jadi Tanda Otoritas Agama

Pada masa itu, gelar Haji biasanya disandang oleh tokoh ulama, kiai, atau pemimpin lokal yang dihormati. Status ini tak hanya menunjukkan keberhasilan menunaikan rukun Islam kelima, tapi juga memberi otoritas moral dan spiritual yang kuat di lingkungan mereka.

Baca Juga:  Perayaan Paskah di Tanah Air Berjalan Lancar dan Aman

Dengan gelar tersebut, mereka punya legitimasi lebih besar dalam menyampaikan ajaran Islam, sekaligus memperkuat jaringan sosial di tingkat komunitas.

3. Tantangan Berat Menuju Tanah Suci

Tak semua orang punya kesempatan untuk berhaji. Biaya tinggi, perjalanan panjang, dan regulasi ketat dari pemerintah Belanda membuat ibadah ini jadi hal yang mewah. Hanya orang kaya atau mereka yang punya dukungan komunitas yang mampu mewujudkannya.

Akibatnya, gelar Haji kerap menjadi simbol status sosial dan kemapanan ekonomi, selain juga sebagai identitas religius.

4. Setelah Merdeka, Haji Makin Terjangkau

Pasca kemerdekaan tahun 1945, banyak hal berubah. Akses ke Tanah Suci perlahan membaik seiring meningkatnya kesejahteraan dan kesadaran beragama. Pemerintah RI mulai menata pengelolaan haji secara nasional, membuat jumlah jamaah meningkat dari tahun ke tahun.

Gelar Haji pun tak lagi jadi monopoli kalangan elite agama atau ekonomi, tapi menyebar lebih luas ke masyarakat umum.

Berita Terkait

KHGT Dikritik karena Abaikan Rukyat Lokal, Ini Tanggapan Muhammadiyah
Konsep Awal Hari dalam KHGT, Mewujudkan Persatuan Umat Lewat Kalender Islam Global
Kalender Hijriah Global Tunggal, Inisiatif Muhammadiyah Satukan Umat Dunia
Buku The Satanic Verses: Karya yang Membuat Penulisnya Hidup dalam Pelarian
Kehidupan Mewah Pengemis Ini Akan Membuat Anda Terkagum-kagum!
Dampak Kesehatan Mental di Tempat Kerja: Kenali Penyebab dan Solusinya
Pesta Spesial Muhammad Andina Tonaratang RH yang Tak Terlupakan
Buka Bersama Alumni SMAN 1 Kusan Hilir, Nostalgia : Risdianto Haleng Kenang Masa-Masa Sekolah
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 14:30 WITA

Alumni Berpeluang Meraih Beasiswa S2 di Uzbekistan, UNUKASE Terima Delegasi IBISRC

Sabtu, 18 April 2026 - 22:43 WITA

Reuni Akbar Universitas PGRI Kalimantan, Nostalgia Serta Kebersamaan

Jumat, 3 April 2026 - 11:22 WITA

Pengukuhan Guru Besar di UNISKA MAB Banjarmasin, Rektor UNUKASE Hadiri Acara

Selasa, 17 Maret 2026 - 16:29 WITA

HIMATANSI Menggelar Bhakti Sosial dan Buka Puasa Bersama di Panti Asuhan Raudhatul Yatama

Selasa, 17 Maret 2026 - 00:14 WITA

Resmi Dilantik, Khairun Noor Tekankan Jabatan sebagai Amanah di Kemenag Tanah Bumbu

Senin, 16 Maret 2026 - 19:34 WITA

Kwarda Gerakan Pramuka Kalsel Laksanakan Kembali Rakerda 2026

Minggu, 15 Maret 2026 - 18:12 WITA

Keluarga Besar BKMT Kota Banjarmasin Mengadakan Buka bersama Untuk Pererat Silaturrahin Di Bulan Ramadhan.

Jumat, 13 Maret 2026 - 21:10 WITA

Pelantikan Pengurus BEM UNUKASE Periode 2025/2026

Berita Terbaru

Heavenly Culture World Peace Restoration of Light (HWPL) menyelenggarakan Workshop Internasional Jurnalisme Perdamaian

Internasional

HWPL Menggelar Workshop Internasional Jurnalisme Perdamaian

Kamis, 23 Apr 2026 - 22:17 WITA

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x