Kalender Hijriah Global Tunggal, Inisiatif Muhammadiyah Satukan Umat Dunia

- Penulis

Rabu, 25 Juni 2025 - 00:53 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Muhammadiyah siap meluncurkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) pada awal 1447 H, sebagai langkah strategis menyatukan penanggalan ibadah dan sipil umat Islam dunia melalui prinsip hisab dan matlak global. Foto : muhammadiyah.or.id

Muhammadiyah siap meluncurkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) pada awal 1447 H, sebagai langkah strategis menyatukan penanggalan ibadah dan sipil umat Islam dunia melalui prinsip hisab dan matlak global. Foto : muhammadiyah.or.id

Ragam – Memasuki tahun baru 1447 Hijriah, Muhammadiyah siap meluncurkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Inisiatif ini bukan sekadar pembaruan teknis, melainkan sebuah langkah strategis untuk menjawab kebutuhan umat Islam dunia akan sistem penanggalan yang seragam, baik untuk keperluan ibadah seperti Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha, maupun kebutuhan sipil lainnya.

KHGT dibangun atas satu gagasan besar: “satu hari, satu tanggal untuk seluruh dunia.” Gagasan ini lahir dari kenyataan yang selama ini dirasakan umat Islam global—perbedaan penetapan awal bulan hijriah yang kerap menyebabkan umat merayakan hari besar di waktu yang berbeda.

Sebuah ironi, mengingat dalam Al-Qur’an, khususnya QS Al-Baqarah ayat 189, pengelolaan waktu merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim.

Hisab sebagai Fondasi Ilmiah

Salah satu fondasi utama KHGT adalah penggunaan metode hisab atau perhitungan astronomis. Di era modern, keakuratan dan kepastian menjadi kebutuhan mendesak. Penyusun kalender perlu merancang sistem yang mampu merekonstruksi tanggal masa lalu, merencanakan jauh ke depan, dan berlaku untuk jangka panjang.

Metode hisab mampu memenuhi tuntutan ini. Sebaliknya, metode rukyat yang bergantung pada observasi hilal secara langsung, terbatas hanya pada tanggal 29 tiap bulan kamariah, sehingga sulit diandalkan untuk kebutuhan perencanaan global.

KHGT menjadikan hisab sebagai pijakan yang tak tergoyahkan. Ketika kriteria hisab telah terpenuhi, maka hasilnya tetap berlaku, meskipun hilal secara kasat mata gagal terlihat di suatu tempat. Dengan cara ini, penetapan tanggal tetap stabil dan dapat diandalkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern yang serba terencana.

Baca Juga:  Pesta Spesial Muhammad Andina Tonaratang RH yang Tak Terlupakan

Ittihad al-Mathali’: Satu Dunia, Satu Kalender

KHGT juga mengusung prinsip ittihad al-mathali’, yakni kesatuan zona waktu untuk seluruh dunia. Konsep ini berpijak pada anggapan bahwa bumi adalah satu kawasan terpadu. Jika hilal sudah terdeteksi di satu titik mana pun di dunia, maka hari tersebut berlaku universal bagi semua umat Islam.

Pemikiran ini bukan hal baru. Dalam khazanah klasik, para ulama terdahulu telah mengemukakan dukungan terhadap matlak global, berdasarkan hadis-hadis Nabi yang bersifat umum.

Bahkan, pandangan ini telah menjadi pendapat mayoritas fukaha, sekalipun dalam praktiknya belum terimplementasi secara luas hingga kini.

Lebih dari Kalender: Simbol Kesatuan Umat

KHGT bukan sekadar perangkat penanggalan, melainkan juga simbol persatuan umat Islam. Ia hadir untuk menjembatani perbedaan yang selama ini memecah waktu-waktu ibadah.

Dengan KHGT, umat diajak kembali kepada semangat ajaran Islam: ketepatan dalam waktu, keselarasan dalam perayaan, dan kebersamaan dalam menjalani kehidupan beragama.

Peluncuran KHGT di awal 1447 Hijriah akan menjadi tonggak penting. Bukan hanya menyatukan tanggal, tetapi juga menguatkan ikatan spiritual umat Islam lintas batas dan benua. Sebuah langkah kecil dalam kalender, tetapi lompatan besar menuju harmoni global yang lebih utuh. (Sumber : muhammadiyah.or.id)

Editor : Haidar

Berita Terkait

KHGT Dikritik karena Abaikan Rukyat Lokal, Ini Tanggapan Muhammadiyah
Konsep Awal Hari dalam KHGT, Mewujudkan Persatuan Umat Lewat Kalender Islam Global
Buku The Satanic Verses: Karya yang Membuat Penulisnya Hidup dalam Pelarian
Kehidupan Mewah Pengemis Ini Akan Membuat Anda Terkagum-kagum!
Dampak Kesehatan Mental di Tempat Kerja: Kenali Penyebab dan Solusinya
Pesta Spesial Muhammad Andina Tonaratang RH yang Tak Terlupakan
Jejak Gelar Haji di Masa Kolonial Belanda: Dari Simbol Perlawanan hingga Identitas Sosial
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 14:30 WITA

Alumni Berpeluang Meraih Beasiswa S2 di Uzbekistan, UNUKASE Terima Delegasi IBISRC

Sabtu, 18 April 2026 - 22:43 WITA

Reuni Akbar Universitas PGRI Kalimantan, Nostalgia Serta Kebersamaan

Jumat, 3 April 2026 - 11:22 WITA

Pengukuhan Guru Besar di UNISKA MAB Banjarmasin, Rektor UNUKASE Hadiri Acara

Selasa, 17 Maret 2026 - 16:29 WITA

HIMATANSI Menggelar Bhakti Sosial dan Buka Puasa Bersama di Panti Asuhan Raudhatul Yatama

Selasa, 17 Maret 2026 - 00:14 WITA

Resmi Dilantik, Khairun Noor Tekankan Jabatan sebagai Amanah di Kemenag Tanah Bumbu

Senin, 16 Maret 2026 - 19:34 WITA

Kwarda Gerakan Pramuka Kalsel Laksanakan Kembali Rakerda 2026

Minggu, 15 Maret 2026 - 18:12 WITA

Keluarga Besar BKMT Kota Banjarmasin Mengadakan Buka bersama Untuk Pererat Silaturrahin Di Bulan Ramadhan.

Jumat, 13 Maret 2026 - 21:10 WITA

Pelantikan Pengurus BEM UNUKASE Periode 2025/2026

Berita Terbaru

Heavenly Culture World Peace Restoration of Light (HWPL) menyelenggarakan Workshop Internasional Jurnalisme Perdamaian

Internasional

HWPL Menggelar Workshop Internasional Jurnalisme Perdamaian

Kamis, 23 Apr 2026 - 22:17 WITA

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x