Jakarta – Mediator dari Qatar mengumumkan pada Rabu bahwa Israel dan Hamas telah mencapai kesepakatan untuk melaksanakan gencatan senjata di Gaza, yang akan dimulai pada Minggu mendatang. Kesepakatan ini juga mencakup pertukaran sandera dan tahanan setelah lebih dari 15 bulan konflik yang merenggut ribuan nyawa.
Menurut Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani, perjanjian ini memberikan harapan besar bagi tercapainya perdamaian permanen antara kedua pihak yang bertikai.
“Kami berharap ini menjadi halaman terakhir dari perang yang telah berlangsung lama,” ujarnya. “Kami berharap semua pihak berkomitmen untuk melaksanakan ketentuan perjanjian ini.”
Pada tahap pertama gencatan senjata ini, sebanyak 33 sandera Israel yang ditahan Hamas sejak serangan 7 Oktober 2023 akan dibebaskan. Mereka termasuk perempuan sipil, rekrutan perempuan, anak-anak, serta warga lanjut usia dan mereka yang sakit atau terluka.
Sebagai bagian dari kesepakatan, pasukan Israel akan mundur dari Gaza, meskipun tetap ditempatkan di perbatasan untuk memfasilitasi proses pertukaran tahanan, yang juga akan mencakup jenazah dan pemulangan pengungsi ke tempat tinggal mereka.
Perjanjian ini akan dipantau oleh mediator yang terdiri dari Qatar, AS, dan Mesir, dengan badan pemantau yang berbasis di Kairo. Sheikh Mohammed menekankan pentingnya menjaga ketenangan di Gaza menjelang dimulainya gencatan senjata, dengan harapan tidak ada serangan atau operasi militer yang terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Rincian lebih lanjut mengenai tahap kedua dan ketiga dari perjanjian ini, termasuk jumlah tahanan Palestina yang akan dibebaskan, akan diumumkan setelah kesepakatan lebih lanjut tercapai dalam beberapa hari mendatang.















