Di Tengah Krisis Global, Indonesia Online Media Forum 2026 Dorong Jurnalisme Berorientasi Kemanusiaan

- Penulis

Senin, 9 Maret 2026 - 23:01 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Forum Media Online Indonesia 2026 menyoroti peran jurnalis, pendidik, dan masyarakat dalam memperkuat budaya damai di tengah krisis global.

Forum Media Online Indonesia 2026 menyoroti peran jurnalis, pendidik, dan masyarakat dalam memperkuat budaya damai di tengah krisis global.

Indonesia –HWPL adalah organisasi perdamaian internasional yang berdedikasi untuk memajukan perdamaian berkelanjutan melalui dialog, kerangka hukum, dan kerja sama di tingkat akar rumput. HPWL menggelar Indonesia Online Media Forum 2026 pada Sabtu (7/3).

Acara ini bertema “Humanity First: Membangun Perdamaian Berkelanjutan dengan Melindungi Nilai Kemanusiaan”. Sebanyak 35 peserta yang terdiri dari professional media serta praktisi Pendidikan mengikuti acara ini.

Penyelenggara menjadwalkan kegiatan ini bertepatan dengan momentum peringatan tahunan Deklarasi Perdamaian Dunia dan Pengakhiran Perang (DPCW) yang diperingati setiap 14 Maret. Para pakar hukum internasional dari Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light merancang DPCW sebagai kerangka hukum perdamaian internasional. DPCW, khususnya Pasal 10, menekankan pentingnya penyebaran budaya damai melalui peningkatan kesadaran publik dan praktik media yang bertanggung jawab. Pasal tersebut juga mendorong lembaga pendidikan untuk menumbuhkan saling pengertian di tengah keberagaman masyarakat.

Acara menghadirkan narasumber dari latar belakang Media dan Pendidikan, yakni:

  • Tuty Purwaningsih dari Jaringan Media Desa Nusantara
  • Hendry Nursal dari Media Jambi Daily dan Bicara Jambi
  • Anang Fadhilah dari Info Banua
  • Dr. H. Barsihannor dari UIN Alauddin Makassar

Dalam paparannya, Tuty Purwaningsih menegaskan bahwa kesehatan mental dan kondisi psikologis sangat menentukan terciptanya perdamaian. Ia menjelaskan bahwa perdamaian tidak hanya berarti ketiadaan konflik, tetapi juga mencerminkan kondisi sosial yang adil dan sehat. Selain itu, ia menyoroti pentingnya kesehatan mental dalam perspektif perempuan dan anak. Sehingga faktor seperti budaya patriarki, ketergantungan ekonomi, pengaruh media, dan interpretasi budaya dapat memengaruhi kondisi tersebut.

Tuty Purwaningsih Kesehatan Mental Perempuan dan Anak
Tuty Purwaningsih Kesehatan Mental Perempuan dan Anak

Sementara itu, Hendry Nursal memberikan contoh praktik komodifikasi tragedi dalam pemberitaan yang sering dikonsumsi masyarakat tanpa disadari. Ia menjelaskan bahwa kode etik jurnalistik mengharuskan jurnalis menyembunyikan identitas tertentu dalam pemberitaan. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa jurnalis perlu memperhatikan aspek lain di luar kode etik, yaitu menempatkan rasa dan empati. Namun, media sering terlalu berfokus pada tindakan pelaku dalam sebuah peristiwa. Ia menegaskan bahwa dengan menghadirkan empati dan sikap tidak memihak, media dapat melihat peristiwa secara lebih adil dari perspektif korban maupun pelaku.

Baca Juga:  HWPL Rayakan 11 Tahun KTT Perdamaian Dunia, Fokus pada Institusionalisasi Perdamaian
Hendry Nursal Kesantunan Berbahasa
Hendry Nursal Kesantunan Berbahasa

Anang Fadhilah mengulas fenomena viralisasi emosional sebagai salah satu perilaku sosial dalam menghadapi krisis. Ia menyatakan bahwa banyak orang saat ini ingin tampil sebagai pahlawan dengan membagikan informasi kepada berbagai pihak. Sehingga banyak orang menyebarkan informasi tanpa terlebih dahulu memeriksa kebenarannya.

Anang Fadhilah Perilaku Sosial Viralisasi Emosional
Anang Fadhilah Perilaku Sosial Viralisasi Emosional

Dari perspektif pendidikan, Barsihannor menekankan pentingnya pendidikan perdamaian di era post-truth. Ia mendorong para praktisi pendidikan untuk membuka ruang dialog yang luas dalam proses pembelajaran. Tidak lupa, ia mengajak lembaga pendidikan untuk membangun budaya inklusif sebagai fondasi perdamaian. Selain itu, menurutnya kurikulum integratif perlu diterapkan agar pendidikan tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga menciptakan lingkungan dan kebijakan yang bebas diskriminasi serta adaptif terhadap perkembangan zaman.

Prof. Dr. H. Barsihannor, M.Ag Budaya Inklusif dan Pendidikan Perdamaian
Prof. Dr. H. Barsihannor, M.Ag Budaya Inklusif dan Pendidikan Perdamaian

Para peserta dalam sesi diskusi breakout room menekankan pentingnya komunikasi yang santun dan penuh empati dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Mereka menyoroti peran para pendidik dalam mendorong dialog yang inklusif di lingkungan pendidikan. Para peserta juga mendorong terciptanya lingkungan pembelajaran kolaboratif bagi para pelajar. Oleh karena itu mereka menilai lingkungan tersebut dapat membantu pelajar memahami keberagaman sekaligus membangun ketahanan emosional.

Selanjutnya, para peserta merefleksikan nilai-nilai dalam Declaration of Peace and Cessation of War (DPCW). Mereka menyoroti penerapan 12 Kurikulum Pendidikan Perdamaian yang dikembangkan oleh Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light. Para peserta menilai nilai-nilai seperti penguatan hukum untuk perdamaian, penyebaran budaya damai, saling menghormati, dan saling peduli sangat penting untuk diterapkan. Mereka juga menekankan peran aktif masyarakat sipil dalam mewujudkan perdamaian.

Para peserta memandang nilai-nilai tersebut relevan dengan tantangan global yang menuntut pendekatan kolaboratif dan berbasis kemanusiaan. Pada akhir forum, para peserta menyatakan komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor guna mewujudkan budaya damai yang berkelanjutan dari tingkat individu hingga komunitas dan institusi.

Berita Terkait

Gelar Pengabdian Masyarakat, Kolaborasi Internasional, Keperawatan ULM dan UTM
HWPL Selenggarakan Wisuda Guru Pendidikan Perdamaian di Lesotho
Kamp Pendidikan Perdamaian Agama Digelar di Phnom Penh, Kamboja
HWPL Menggelar Workshop Internasional Jurnalisme Perdamaian
Ke Mana Umat Manusia Harus Menuju?, Peringatan 10 Tahun Proklamasi DPCW
Koalisi Masyarakat Sipil Korea Selatan Peringatkan Bahaya Stigmatisasi Agama oleh Negara
LPTNU Jajaki Kerja Sama Strategis Akademik dan Keagamaan dengan Pusat Kajian Imam Bukhari Uzbekistan
UNUKASE Buka Peluang Magang Internasional, Bersama Universitas Uzbekistan
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 08:40 WITA

MBG di Hulu Sungai Utara: Upaya Cegah Stunting dan Tingkat Presentasi Belajar

Minggu, 26 Juli 2026 - 08:30 WITA

MBG DAN ANGGARAN RAKSASA: SIAPA YANG SUNGGUH DIUNTUNGKAN?

Minggu, 26 Juli 2026 - 04:19 WITA

Program Makan Bergizi Gratis dalam Perspektif Kebiijakan Publik Menimbang Manfaat Sosial, Efektifitas Implementasi dan Risiko terhadap Ketahanan Fiskal Negara

Minggu, 26 Juli 2026 - 03:54 WITA

Transformasi Gizi Nasional: Menakar Progres, Tantangan, dan Dampak Strategis Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tengah Dinamika Kebijakan

Sabtu, 25 Juli 2026 - 08:30 WITA

Menakar Realitas Makan Bergizi Gratis di Bumi Agung: Antara Retorika Nasional dan Tantangan Lokal

Sabtu, 25 Juli 2026 - 07:32 WITA

MBG di Hulu Sungai Utara: Menakar Kebijakan, Anggaran, dan Dampaknya bagi Masyarakat

Sabtu, 4 Oktober 2025 - 14:49 WITA

Tapin: Antara Tambang, Sawah, dan Masa Depan Warganya

Selasa, 23 September 2025 - 11:12 WITA

KAPOLRI MENDAHULUI ATAU “MELAWAN” PRESIDEN?

Berita Terbaru

Opini

MBG DAN ANGGARAN RAKSASA: SIAPA YANG SUNGGUH DIUNTUNGKAN?

Minggu, 26 Jul 2026 - 08:30 WITA

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x