Desember 10, 2022

Pelitanusantara.net – Islam begitu memuliakan sosok guru, ia digolongkan sebagai orang-orang beruntung di dunia dan di akhirat. Sebab, mereka merupakan sosok pendidik, yang mengajarkan ilmu, yang mengajak kepada kebenaran dan kebaikan, dan mengajaka untuk menjauhkan dari perbuatan jahat dan buruk. Sebagaimana firman Allâh Tabaroka wa Ta’ala :

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

Disisi lain, Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad untuk menjadi Rasulullah sebagai penutan umat, hakim dalam menyelesaikan berbagai masalah. Namun dari sekian amanah yang beliau emban, ada perannya yang sangat penting yakni sebagai seorang pendidik atau guru. Hal ini sesuai dengan hadits berikut:

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Allah tidak mengutusku sebagai orang yang kaku dan keras akan tetapi mengutusku sebagai seorang pendidik dan mempermudah.” (HR. Muslim).

Hadits tersebut dipertegas lagi oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam kepada Abu Darda, sebagaimana sabda beliau, yang artinya: “Jadilah engkau sebagai orang berilmu, atau pembelajar, atau penyimak ilmu, atau pecinta ilmu. Namun jangan jadi yang kelima, niscaya engkau celaka.” (HR. Al-Baihaqi).

Secara umum dalam Bahasa Indonesia pengertian guru adalah merujuk sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak pendidikan Indonesia, telah menguatkan pilar pendidikan dengan tiga asas pendidikan yaitu, Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut wuri Handayani. Yang realisasinya dalam pendidikan dapat dipahami bahwa guru sebagai pendidik yaitu: Ing Ngarso Tuludo, bahwa di depan seorang guru harus dapat memberikan contoh atau teladan yang baik bagi kepada peserta didiknya. Ing Madya Mangun Karsa, guru adalah pendidik yang mampu memberikan dorongan atau semangat untuk berkarya kepada anak didiknya. Tut Wuri Handayani, di belakang guru adalah pendidik yang mampu mengarahkan atau menopang para peserta didiknya pada jalan yang benar.

Sosok guru harus memiliki empat kompetensi, sebagaimana disebutkan dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 Pasal 10 ayat 1, tentang Guru dan Dosen yaitu kompetensi paedagogik, kepribadian, sosial dan profesional ( Keempat kompetensi tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling mempengaruhi dan berhubungan satu sama lain. Kompetensi kepribadian kiranya mendapatkan perhatian lebih, sebab kompetensi ini berkaitan dengan idealisme atau keyakinan dan kemampuan guru untuk dapat memahami dirinya sendiri dalam kapasitasnya sebagai pendidik. Esensi kompetensi kepribadian guru semuanya bermuara ke dalam intern pribadi guru. Kompetensi paedagogik, professional dan sosial yang dimiliki seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Pada akhirnya akan lebih banyak ditentukan oleh kompetensi kepribadian yang dimilikinya. Kompetensi kepribadian dalam Standar Nasional Pendidikan penjelasan pasal 28 ayat (3) adalah “kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik”.

Warso (2014) dalam bukunya Proses Pembelajaran & Penilaiannya di SD/MI/SMP/MTs/SMA/MA/SMK mengatakan pada pelaksanaan proses pembelajaran guru mempunyai peran yang sangat penting. Peran/tugas guru dalam proses pembelajaran tersebut meliputi guru sebagai: Sumber belajar; Fasilitator; Pengelola pembelajaran; Demonstrator; Pembimbing; Motivator; dan Penilai.

Dari penjelasan di atas, jelas sekali bahwa guru yang baik adalah sosok yang terlibat dalam pendidikan secara langsung yang tugasnya tidak hanya sekedar mentransfer ilmu dari guru kepada peserta didik, akan tetapi lebih dari itu. Guru berperan sebagai orang tua kedua di sekolah, yang tugasnya mengarahkan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan dan menjadikan mereka menjadi manusia seutuhnya melalui teladan yang bisa dicontoh, memberikan motivasi atau dorongan untuk menjadi lebih baik dan membimbing atau memberikan arahan agar selalu pada jalur kebenaran dalam mengembangkan potensi yang ada pada dirinya.

Guru mempunyai beban atau tugas untuk menumbuhkan kemampuan peseta didik agar dapat meningkatkan dan mencerdaskan kehidupan bangsa, seperti tujuan pendidikan yang tertera pada UUD 1945 alinea 4, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Peran Guru Dalam Proses Pembelajaran
Peran guru sebagai sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan materi pelajaran. Karena gurulah yang menjadi tempat peserta didik menggali atau mengambil pelajaran. Sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran hendaknya guru harus memiliki bahan rujukan yang lebih banyak dibandingkan dengan siswa dan guru perlu melakukan pemetaan tentang materi pelajaran. Maka bisa dinilai baik atau tidaknya seorang guru hanya dari penguasaan materi pelajaran. Sehingga guru benar-benar berberan sebagai sumber belajar bagi anak didiknya. Apapun yang ditanyakan oleh anak didiknya berkaitan dengan materi pelajaran yang sedang diajarkannya, seorang guru harus mampu menjawab dengan baik dan benar.

Sebaliknya, kekurang pahaman guru tentang materi pelajaran biasanya ditunjukkan oleh sikap tertentu, misalnya teknik penyampaian materi pelajaran yang tidak mudah dipahami dan terkesan monoton, kurang semangat, guru sering duduk di kursi sambil membaca, jarang melakukan kontak mata langsung dengan siswa, tidak kaya dengan ilustrasi, kelihatan lesu dan lain sebagainya. Perilaku guru yang demikian bisa menyebabkan hilangnya kepercayaan dan penghormatan pada diri peserta didik, sehingga guru akan sulit mengendalikan para siswanya

Guru sebagai fasilitator memberikan penekanan bahwa guru berperan sebagai fasilitator agar kelas menjadi lebih hidup dan bergairah. Peserta didik akan lebih banyak berkegiatan baik secara fisik maupun secara psikis. Sehingga ada pergeseran paradigma mengajar dari yang berpusat pada guru (teacher centred) untuk menjadi berpusat pada siswa (student centred). Praktik pembelajaran dengan hanya ceramah, memperdengarkan guru membaca buku, harus mulai digantikan dengan pembelajaran yang mengaktifkan peserta didik. memberikan perhayian dan pelayanan untuk memudahkan dalam kegiatan pembelajaran. Guru harus mampu untuk menjadi fasilitator yang baik di depan peserta didiknya, apalagi guru yang telah terbiasa (terotomatisasi) untuk mengajar dengan teknik-teknik, metode-metode, dan strategi lama yang mungkin harus dipertimbangkan ulang penggunaannya di dalam kelas yang mendominasi pembelajaran dari awal sampai akhir.

Guru sebagai pengelola pembelajaran (learning manager), perperan dalam menciptakan iklim belajar yang memungkinkan peserta didik dapat belajar secara aman dan nyaman melalui pengelolaan kelas yang baik, guru dapat menjaga kelas agar tetap kondusif untuk terjadinya proses belajar seluruh peserta didiknya. Sebagai pengelola pembelajaran guru memiliki 4 fungsi umum yaitu : merencanakan tujuan belajar; mengorganisir berbagai sumber belajar; dan memimpin dan mengawasi. Adapun dalam melaksanakan pengelolaan pembelajaran ada dua macam kegiatan yang harus dilakukan, yaitu mengelola sumber belajar dan melaksanakan peran sebagai sumber belajar itu sendiri. Karena kepribadian guru adalah pengaturan yang dinamis dari sifat dan pola karakteristik perilaku yang unik pada individu (Callahan dalam Suharsaputra, 2011:44).

Guru sebagai demonstrator, yakni berperan mempertunjukkan kepada siswa tentang segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mudah mengerti dan memahami terhadap materi dan informasi belajar yang disampaikan, oelah sebab itu guru harus mampu menampilkan ilmu pengetahuan secara menarik dan mudah dicerna sehingga dapat diterima oleh peserta didik dengan baik. Kunci kesuksesan guru melaksanakan peran demonstrator adalah menguasai ilmu yang akan disampaikan dengan baik dan juga dengan metode pembelajaran yang tepat. Sebab, bagaimana mungkin peserta didik menerima pelajaran dengan baik jika guru kurang menguasai dan memahami materi yang diajarkannya. Kredibilitas dan kehormatan seorang guru akan menurun di mata peserta didik.

Guru sebagai pembimbing yaitu membimbing peserta didik agar dapat memahami potensi dan bakat yang dimilikinya, membimbing agar dapat mencapai dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan peserta didik, sehingga dengan ketercapaian tersebut ia dapat tumbuh dan berkembang sebagai manusia yang benar dan pintar. Untuk menjadi pembimbing yang baik, maka ada beberapa hal yang harus dimiliki guru. Pertama, guru harus memiliki pemahaman yang cukup tentang sosok karakter dan kemampuan anak yang sedang dibimbingnya.

Pemahaman ini sangat penting, sebab akan menentukan teknik dan jenis bimbingan yang harus diberikan kepada mereka. Kedua, guru harus bisa memahami dan cukup terampil dalam merencanakan tujuan dan kompetensi yang akan dicapai maupun merencanakan proses pembelajarannya. Karena hatus disadari bahwa peserta didik adalah individu yang unik. Keunikan itu bisa dilihat dari adanya setiap perbedaan.

Artinya tidak ada dua individu yang sama. Walaupun secara fisik mungkin individu memiliki kemiripan, tetapi pada hakikatnya mereka tidaklah sama, baik dalam minat, bakat, daya serap pemahaman, kemampuan berbicara, dan lain sebagainya. Artinya guru mampu mengarahkan dan membimbing agar peserta didik tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi, minat dan bakatnya.

Guru sebagai motivator, karena dalam proses pembelajaran, motivasi merupakan salah satu aspek dinamis yang sangat penting. Tidak jarang peserta didik yang tidak berprestasi bukan disebabkan oleh kemampuannya yang kurang, tetapi dikarenakan tidak adanya motivasi untuk belajar sehingga ia tidak punya kemauan kuat untuk mengoptimalkan segala kemampuan dan potensi yang dimilikinya. Maka bagian dari tangga meraih tingkat keberhasilan peserta didik ketika ia mempunyai motivasi dalam belajar.

Oleh sebab itu, guru perlu menumbuhkan potensi dan semangat serta dituntut kreatif dan inovatif dalam membangkitkan motivasi belajar para peserta didiknya. Karena guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan peserta didiknya, baik secara indvidual ataupun klasikal, baik di sekolah maupun di luar sekolah (Sagala, 2009:21).

Guru sebagai evaluator yang berperan mengumpulkan data atau informasi tentang tingkat keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan. Dengan melakukan penilaian maka guru akan mengetahui atau menentukan tingkat keberhasilan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dan juga guru dapat menentukan keberhasilan setiap program-program yang telah direncanakan oleh guru itu sendiri.

Terdapat dua fungsi penting seorang guru sebagai evaluator. Pertama, menentukan keberhasilan peserta didik dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan atau menentukan keberhasilan peserta didik dalam menyerap materi pendidikan. Kedua, untuk menentukan keberhasilan guru itu sendiri dalam melaksanakan seluruh kegiatan yang telah diprogramkan.

Guru juga berperan sebagai dai atau teladan bagi peserta didik harus memiliki sikap dan kepribadian utuh yang dapat dijadikan uswah dan idola dari aspek kehidupannya. Guru harus selalu berusaha memilih dan melakukan perbuatan yang positif agar memiliki citra baik dan kewibawaannya, terutama di depan peserta didiknya.

Guru memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam membentuk pribadi peserta didik, untuk menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM). Guru tidak hanya dituntut untuk mampu memahamkan pembelajaran, tetapi menjadikan pembelajaran sebagai ajang pembentukkan karakter/adab dan perbaikan kualitas pribadi peserta didik. Dan Guru sebagai pendidik yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik dan lingkungannya (Mulyasa, 2013:37).

Dan tak kalah utamanya adalah guru perperan sebagai orang yang senantiasa mendoakan kebaikan dan keberhasilan untuk para anak didiknya, karena ia sadar, bukan kecerdasan dan kepiawaian dirinya dalam mendidik yang mampu membuat perubahan pada anak didiknya, tapi karena hidayah, ma’unah dan taufiq Allâh Tabaroka wa Ta’ala semata.

Selain memulai dan menutup pembelajaran dengan doa, guru juga harus berusaha di malam harinya untuk mengangkat tangannya, guna berdoa memohon kemampuan untuk bisa mengajarkan dan mendidik dengan baik dan benar, serta menjadi penyebab datangnya kebaikan dan keridhaan-Nya, mendoakan para anak didiknya untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan dalam meraih setiap harapan dan cita-cita mulianya.

Semua peran-peran di atas merupakan peran yang harus dimiliki oleh seorang guru. Jadi, guru bukan hanya sekedar menyampaikan materi tapi mencakup seluruh aspek kebutuhan anak didik. Dan sekali lagi perlu penulis tekankan bahwa tidak sembarang orang bisa menjadi guru, tidak semuanya. Karena harus menempuh prosedur-prosedur tertentu yang tidak bisa dilakukan tanpa harus mengikuti pendidikan pada lembaga yang sudah ditunjuk oleh Undang-Undang sebagai lembaga pencetak guru-guru professional.

Guru mempunyai beban yang tidak ringan dalam memberikan pemahaman beragama, pengawasan dalam pembelajaran dan pembentukan adab bagi anak didiknya. Tidak diragukan lagi, peran guru tidak hanya menjadi pendidik tapi berperan menjadi orang tua kedua setelah orang tua bagi anak-anak didiknya, walau para guru tidak melahirkan anak-anak didiknya secara biologis, tapi mereka telah “melahirkan” banyak hal dalam pembentukan karakter, pemikiran dan keilmuan anak didiknya, maka pantaslah jika guru disebut sebagai orangtua kedua. Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa guru dituntut untuk memiliki kepribadian yang baik, cakap dan berpikir kritis, serta pandangan hidup yang inovatif dan kreatif.

Karena guru sosok pendidik yang menjadi ditokohkan, dijadikan panutan dan mempunyai wewenang serta tanggung jawab besar terhadap pendidikan peserta didik dan lingkungannya. Kepribadian guru adalah gambaran cara seseorang bertingkah laku terhadap lingkungan sekitarnya, yang terlihat dari kebiasaan berpikir, sikap dan minat, serta pandangan hidupnya yang khas untuk mempunyai keajegan (Jaenudin, 2012:29). Oleh sebab itu setiap guru dituntut untuk memiliki kompetensi kepribadian yang memadai agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, profesional dan dapat dipertanggung-jawabkan.

Penulis : Ali Matsubir
Mahasiswa Pascasarjana UMM Magister PAI

Bagikan
 
 
        

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.