Banjarmasin – Siapa sangka sebuah masjid tua di tengah kota Banjarmasin bisa menjadi laboratorium hidup untuk pembelajaran matematika? Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika (PMTK) Universitas NU Kalimantan Selatan (UNUKASE) membuktikannya lewat ekspedisi ilmiah ke Masjid Nurul Amilin, Senin (16/6/25).
Masjid yang berdiri megah sejak tahun 1942 ini bukan hanya saksi bisu sejarah peradaban Banjar, tetapi juga menyimpan kekayaan etnomatematika, konsep matematika yang melekat dalam seni, budaya, dan arsitektur tradisional.
Dalam kegiatan ini, para mahasiswa yang didampingi dosen dan tokoh masyarakat setempat melakukan pengamatan mendalam terhadap berbagai ornamen dan struktur bangunan masjid. Mereka meneliti pola geometri ukiran kayu ulin, proporsi bangunan, serta simetri dan pola pada kubah yang terinspirasi dari arsitektur Timur Tengah.
“Saya tidak menyangka bangunan bersejarah seperti ini menyimpan begitu banyak unsur matematika. Ukiran, perbandingan ukuran, semuanya menunjukkan pemahaman matematika yang luar biasa dari masa lalu,” ungkap Ikhsan, salah satu mahasiswa PMTK.
Menurut Ketua Prodi PMTK, Azis Muslim, M.Pd, kegiatan ini merupakan bagian dari riset etnomatematika yang bertujuan memperluas wawasan mahasiswa tentang penerapan matematika dalam kehidupan nyata.
“Matematika bukan hanya tentang angka di papan tulis. Ia juga hidup dalam budaya dan arsitektur, termasuk dalam warisan leluhur kita seperti masjid ini,” ujarnya.
Masjid Nurul Amilin sendiri dibangun di atas tanah wakaf milik Haji Talib dan hingga kini tetap menjadi pusat aktivitas keagamaan warga Kelayan B. Keaslian bangunannya masih terjaga, terutama lewat penggunaan kayu ulin sebagai bahan utama.
Kunjungan ini pun mendapat sambutan hangat dari pengurus masjid. Ketua Pengelola Masjid Nurul Amilin, H. Muhammad Idris, S.H.I, menyampaikan apresiasi dan harapan besar.
“Kami bangga dan bersyukur anak muda datang untuk meneliti dan memahami nilai sejarah masjid ini. Semoga bisa menjadi warisan intelektual dan spiritual bagi generasi mendatang,” katanya.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa tempat ibadah tidak hanya berfungsi spiritual, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan pelestarian budaya. Dengan menelusuri etnomatematika di Masjid Nurul Amilin, mahasiswa tidak hanya belajar ilmu pasti, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap sejarah dan kearifan lokal.
Masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi juga laboratorium budaya dan matematika yang kaya nilai! (humas unukase/mpd)















