Koalisi Masyarakat Sipil Korea Selatan Peringatkan Bahaya Stigmatisasi Agama oleh Negara

- Penulis

Selasa, 3 Februari 2026 - 19:07 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Koalisi masyarakat sipil Korea Selatan memperingatkan pernyataan pemerintah soal agama berisiko memicu kebencian dan diskriminasi

Koalisi masyarakat sipil Korea Selatan memperingatkan pernyataan pemerintah soal agama berisiko memicu kebencian dan diskriminasi

Seoul, Republik Korea — Koalisi Solidaritas Bersama untuk Demokrasi dan Kebebasan Beragama menggelar konferensi pers di depan Air Mancur Cheongwadae Pada (23/01/26). Koalisi tersebut bertindak sebagai aliansi masyarakat sipil lintas sektor di Republik Korea.

Melalui konferensi pers itu, koalisi menyampaikan pernyataan sikap terhadap pernyataan dan arah kebijakan penyelidikan terbaru pejabat tertinggi pemerintah. Koalisi mempersoalkan cara negara menyampaikan pesan publik terkait agama tertentu.

Selain itu, Koalisi secara resmi mengumumkan peluncuran organisasinya dalam forum tersebut. Mereka menyatakan bahwa pelabelan negara terhadap agama tertentu berpotensi merusak kebebasan beragama. Sebagai tambahan, mereka juga menilai tekanan negara tersebut mengancam prinsip pemisahan antara politik dan agama.

Konstitusi Republik Korea menjamin prinsip-prinsip tersebut. Koalisi ini menghimpun berbagai organisasi warga, keagamaan, dan sosial.  Mereka juga melibatkan tokoh lintas agama dari Buddha, Kristen, dan Islam, serta melibatkan praktisi hukum dan profesor universitas.

Perwakilan organisasi masyarakat sipil turut bergabung dalam aliansi ini. Koalisi menyelenggarakan konferensi pers dengan judul “Konferensi Pers Bersama untuk Membela Kebebasan Beragama yang Dijamin oleh Konstitusi”.

Sementara itu, sebanyak 100 peserta menghadiri kegiatan tersebut. Panitia menyusun agenda berupa pembacaan pernyataan dan pemaparan pandangan ketua bersama.

Beopsan membacakan pernyataan koalisi dalam konferensi pers tersebut. Selain itu, ia menjabat sebagai Kepala Administrasi Ordo Jogye Buddhisme Korea, serta bertindak sebagai ketua bersama koalisi.

Empat perwakilan lintas agama dan masyarakat sipil kemudian menyampaikan pandangan mereka. Para perwakilan menyoroti dampak potensial pernyataan pemerintah terhadap konstitusi dan demokrasi.

Koalisi merujuk Pasal 20 Konstitusi Republik Korea tentang kebebasan beragama dan pemisahan antara politik dan agama juga merujuk Pasal 10 tentang martabat manusia serta menegaskan Pasal 11 mengenai prinsip kesetaraan.

Baca Juga:  TikTok Diblokir! Perplexity AI Tawarkan Solusi Mengejutkan

Mereka menilai pengulangan pernyataan resmi pemerintah yang melabeli agama tertentu sebagai “aliran sesat”, “bidah”, atau “kejahatan sosial” menimbulkan masalah serius.

Selain itu, mereka menyatakan bahwa pelabelan tersebut berpotensi bertentangan dengan prinsip netralitas negara terhadap agama. Oleh karena itu, mereka menilai pelabelan itu melanggar larangan diskriminasi dalam negara demokratis. Sehingga mereka menyusun pernyataan ini setelah pengarahan Istana Kepresidenan oleh juru bicara Kang Yoo-jung.

Presiden Lee Jae-myung pada (12/01/26) menyampaikan pernyataan dalam jamuan makan siang bersama pemimpin agama. Presiden menyatakan persetujuannya terhadap pandangan bahwa “dampak buruk yang ditimbulkan oleh kelompok agama sesat seperti Unification Church dan Shincheonji sangat serius.” Selain itu, ia menambahkan bahwa “kerugian sosialnya sangat besar karena telah lama dibiarkan.”

Koalisi juga menyoroti pernyataan Perdana Menteri Kim Min-seok dalam rapat kabinet keesokan harinya.

Perdana Menteri menyebut Unification Church dan Shincheonji sebagai “kejahatan sosial yang harus diberantas.” ia menyerukan penyelidikan gabungan oleh kejaksaan dan kepolisian dan mendorong respons di tingkat seluruh pemerintah.

Koalisi menyatakan bahwa pejabat negara tetap harus menjaga netralitas meskipun negara menyelidiki dugaan tindak pidana serta menilai pelabelan menyeluruh terhadap organisasi keagamaan dapat menimbulkan ketegangan konstitusional.

Sejumlah pihak menyoroti bahwa organisasi keagamaan tersebut memiliki rekam jejak kegiatan sukarela dan donor darah. Pelabelan negatif tanpa tuduhan pidana yang spesifik memicu kontroversi publik.

Sebagai Penutup, Koalisi meminta kajian independen atas respons pemerintah berdasarkan standar HAM internasional. Mereka menegaskan bahwa kebebasan beragama merupakan standar fundamental bagi seluruh masyarakat demokratis.

Berita Terkait

Gelar Pengabdian Masyarakat, Kolaborasi Internasional, Keperawatan ULM dan UTM
HWPL Selenggarakan Wisuda Guru Pendidikan Perdamaian di Lesotho
Kamp Pendidikan Perdamaian Agama Digelar di Phnom Penh, Kamboja
HWPL Menggelar Workshop Internasional Jurnalisme Perdamaian
Ke Mana Umat Manusia Harus Menuju?, Peringatan 10 Tahun Proklamasi DPCW
Di Tengah Krisis Global, Indonesia Online Media Forum 2026 Dorong Jurnalisme Berorientasi Kemanusiaan
LPTNU Jajaki Kerja Sama Strategis Akademik dan Keagamaan dengan Pusat Kajian Imam Bukhari Uzbekistan
UNUKASE Buka Peluang Magang Internasional, Bersama Universitas Uzbekistan
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 08:40 WITA

MBG di Hulu Sungai Utara: Upaya Cegah Stunting dan Tingkat Presentasi Belajar

Minggu, 26 Juli 2026 - 08:30 WITA

MBG DAN ANGGARAN RAKSASA: SIAPA YANG SUNGGUH DIUNTUNGKAN?

Minggu, 26 Juli 2026 - 04:19 WITA

Program Makan Bergizi Gratis dalam Perspektif Kebiijakan Publik Menimbang Manfaat Sosial, Efektifitas Implementasi dan Risiko terhadap Ketahanan Fiskal Negara

Minggu, 26 Juli 2026 - 03:54 WITA

Transformasi Gizi Nasional: Menakar Progres, Tantangan, dan Dampak Strategis Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tengah Dinamika Kebijakan

Sabtu, 25 Juli 2026 - 08:30 WITA

Menakar Realitas Makan Bergizi Gratis di Bumi Agung: Antara Retorika Nasional dan Tantangan Lokal

Sabtu, 25 Juli 2026 - 07:32 WITA

MBG di Hulu Sungai Utara: Menakar Kebijakan, Anggaran, dan Dampaknya bagi Masyarakat

Sabtu, 4 Oktober 2025 - 14:49 WITA

Tapin: Antara Tambang, Sawah, dan Masa Depan Warganya

Selasa, 23 September 2025 - 11:12 WITA

KAPOLRI MENDAHULUI ATAU “MELAWAN” PRESIDEN?

Berita Terbaru

Opini

MBG DAN ANGGARAN RAKSASA: SIAPA YANG SUNGGUH DIUNTUNGKAN?

Minggu, 26 Jul 2026 - 08:30 WITA

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x