Banjar — Suasana haru dan bahagia menyelimuti pelaksanaan Yudisium Mahasiswa STIKes Intan Martapura yang terlaksana di Aula dan halaman Kampus 1 STIKes Intan Martapura, Senin (31/8/2026).
Sebanyak 79 mahasiswa mengikuti prosesi yudisium yang menjadi penanda berakhirnya perjalanan akademik mereka di STIKes Intan Martapura. Peserta terdiri dari 76 mahasiswa Program Studi Diploma Tiga Keperawatan, 2 mahasiswa Program Studi Sarjana Administrasi Rumah Sakit, dan 1 mahasiswa Program Studi Profesi Ners.
Yudisium menjadi momen istimewa setelah para mahasiswa melewati perjalanan panjang dan berbagai tantangan selama menempuh pendidikan. Mulai dari proses pembelajaran, praktik, penyelesaian tugas akademik, tugas akhir, hingga berbagai tahapan evaluasi kompetensi telah mereka lalui sebelum akhirnya sampai pada momentum yang telah lama dinantikan.

Tidak hanya prosesi akademik, kegiatan juga diwarnai dengan tradisi Mandi Kembang, yang menjadi salah satu rangkaian khas dalam kegiatan pelepasan mahasiswa STIKes Intan Martapura.
Tradisi tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kebahagiaan. Mandi kembang menjadi simbol rasa syukur atas selesainya perjalanan pendidikan. Selain itu, dapat menjadi doa dan harapan agar para lulusan diberikan kelancaran, kesuksesan, serta keberkahan dalam menapaki kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan.
Ketua STIKes Intan Martapura, Hj. Zubaidah, SST., S.Kep., MPH, dalam pesannya mengingatkan para lulusan bahwa perjalanan pendidikan tentu tidak terlepas dari tantangan dan rintangan.
“Selama proses ada tantangan dan rintangan, tetap harus berpacu. Terbukti dengan mahasiswa yang selesai tepat waktu,” pesannya.
Menurutnya, keberhasilan mahasiswa menyelesaikan pendidikan merupakan hasil dari proses panjang yang membutuhkan kesungguhan, ketekunan, dan semangat untuk terus maju.
Ia juga menyampaikan bahwa keberhasilan mahasiswa merupakan kebahagiaan bagi seluruh pengelola dan dosen STIKes Intan Martapura.
“Pengelola dan dosen selalu mendoakan kesuksesan mahasiswa,” ungkapnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan kepada para lulusan agar terus bersemangat dalam menghadapi tahapan berikutnya, baik memasuki dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan.
Salah satu peserta yudisium dari Program Studi Profesi Ners, Rio Hers Lambang, mengungkapkan rasa lega, bahagia, dan syukur setelah berhasil menyelesaikan seluruh proses akademik.
“Secara umum kesan yang ulun dapat yaitu merasa sangat lega, bahagia, dan bersyukur karena telah menyelesaikan seluruh proses akademik di kampus. Perjalanan panjang menyusun ASKEP, KTI, revisi, hingga ujian kompetensi akhirnya terbayar lunas pada hari yudisium,” ungkap Rio.
Bagi Rio, STIKes Intan Martapura bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi juga telah menjadi rumah kedua tempat dirinya bertumbuh dan memperoleh dukungan selama menjalani pendidikan profesi.
“Segala tantangan, lelah, dan kesulitan selama kuliah sambil bekerja di daerah yang jauh membentuk mental yang lebih kuat dan lebih teratur,” tuturnya.
Menurutnya, yudisium kali ini memiliki makna yang lebih dari sekadar berakhirnya proses pendidikan.
“Selain sebuah ujung dari proses pendidikan, tapi juga merupakan sebuah pencapaian diri yang harus diapresiasi. Di sinilah ulun merasa tidak hanya diajak bergabung lalu dilepas, tapi lebih dari itu ulun merasa dibersamai hingga akhir,” ujarnya.
Rio juga mengajak teman-teman dan adik tingkat untuk terus bersemangat menyelesaikan pendidikan.
“Terus semangat berjuang menyelesaikan studi tanpa menyerah, semoga sukses melangkah ke tahap berikutnya, baik meniti karier maupun melanjutkan studi, dan tetap menjaga silaturahmi,” pesannya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh dosen dan staf atas kesabaran, bimbingan, ilmu, serta inspirasi yang mereka berikan selama masa perkuliahan.
Kesan mendalam juga disampaikan Raudhah, salah satu peserta yudisium dari Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Bagi Raudhah, yudisium menjadi salah satu momen yang sangat berkesan dan membanggakan dalam perjalanan pendidikannya.
Perjalanan menempuh pendidikan keperawatan tidak selalu mudah, terlebih Raudhah juga menjalani amanah sebagai Putri Pariwisata Nusantara 2025. Membagi waktu antara pendidikan, berbagai kegiatan, dan tanggung jawab lainnya menjadi tantangan tersendiri.
“Yudisium ini menjadi salah satu momen yang sangat berkesan dan membanggakan bagi saya. Perjalanan selama menempuh pendidikan keperawatan tentu tidak selalu mudah, apalagi saya juga menjalani amanah sebagai Putri Pariwisata Nusantara 2025. Membagi waktu antara pendidikan, kegiatan, dan tanggung jawab lainnya menjadi tantangan tersendiri,” ungkap Raudhah.
Menurutnya, berbagai pengalaman tersebut justru memberikan banyak pembelajaran berharga. Ia belajar mengenai tanggung jawab, kedisiplinan, serta bagaimana tetap berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap peran.
“Namun, dari semua proses tersebut saya belajar tentang tanggung jawab, disiplin, dan bagaimana tetap berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap peran,” lanjutnya.
Bagi Raudhah, momen yudisium juga menjadi pengingat bahwa setiap perjuangan, rasa lelah, dan proses yang telah dilalui akhirnya membawa dirinya sampai pada tahap tersebut.
“Hari ini menjadi pengingat bahwa setiap perjuangan, lelah, dan proses yang telah dilalui akhirnya membawa saya sampai pada tahap ini. Saya sangat bersyukur bisa menyelesaikan perjalanan pendidikan ini bersama teman-teman seperjuangan dan selangkah lebih dekat untuk mewujudkan cita-cita menjadi seorang perawat,” tuturnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Raudhah menyampaikan apresiasi kepada seluruh dosen dan sivitas akademika STIKes Intan Martapura yang telah membimbing dan memberikan banyak ilmu selama dirinya menempuh pendidikan.
“Terima kasih kepada seluruh dosen dan sivitas akademika STIKes Intan Martapura yang telah membimbing dan memberikan banyak ilmu selama saya menempuh pendidikan. Terima kasih juga kepada teman-teman yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini,” ujarnya.
Raudhah berharap STIKes Intan Martapura semakin maju dan terus mencetak lulusan keperawatan yang tidak hanya kompeten secara ilmu, tetapi juga memiliki hati, kepedulian, dan semangat untuk melayani sesama.
“Semoga STIKes Intan Martapura semakin maju dan terus mencetak perawat-perawat yang tidak hanya kompeten secara ilmu, tetapi juga memiliki hati, kepedulian, dan semangat untuk melayani sesama. Semoga langkah setelah yudisium ini menjadi awal bagi kami untuk membawa ilmu dan memberikan manfaat di mana pun kami berada,” pungkasnya.
Momentum yudisium ini menjadi pengingat bahwa setiap keberhasilan selalu lahir dari proses. Tantangan dan rintangan yang terlewati bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjalanan untuk menjadi pribadi dan tenaga profesional yang lebih kuat, kompeten, serta memiliki kepedulian terhadap sesama.















