Banjarbaru – Hubungan pacaran remaja kerap identik dengan romansa dan kebahagiaan. Namun, di baliknya dapat muncul komunikasi menyakitkan seperti ejekan, perkataan merendahkan, silent treatment, hingga manipulasi emosi yang perlahan memengaruhi kondisi psikologis dan rasa aman dalam hubungan.
Fenomena tersebut menjadi perhatian Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Melalui penelitian bertajuk Di Balik Romansa Remaja: Analisis Kekerasan Emosional dan Komunikasi Menyakitkan dalam Hubungan Pacaran Remaja Berbasis Hurtful Communication Theory (HCT).
Penelitian terlaksana dari bulan Juni – Agustus 2026 dengan lokasi wilayah Kota Banjarbaru dan sekitarnya. Melibatkan 263 responden berusia 17–22 tahun di Banjarbaru dan sekitarnya menemukan bahwa 17,1 persen responden mengalami komunikasi menyakitkan dalam kategori tinggi. Sementara itu, 40,3 persen memiliki kecemasan dalam hubungan yang tinggi dan 31,6 persen mengalami dampak psikologis yang tinggi.
Ketua Tim PKM-RSH ULM, Cieca Tri Sulistia, mengatakan komunikasi menyakitkan masih kerap dianggap sebagai candaan atau sesuatu yang wajar dalam hubungan pacaran.
“Ketika komunikasi yang menyakitkan terjadi berulang, hal tersebut dapat memengaruhi kondisi emosional dan rasa aman seseorang dalam hubungan,” ujarnya.
Untuk memahami fenomena tersebut, tim menggunakan Hurtful Communication Theory (HCT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi komunikasi menyakitkan, semakin tinggi pula kecemasan dalam hubungan. Responden juga cenderung menganggap pasangan secara sengaja melakukan tindakan tersebut.
Melalui riset tersebut, Tim PKM-RSH ULM yang terdiri atas Cieca Tri Sulistia, Muhammad Andrian Agusetiawan, Nurul Aulia Maulidia, Dhiya Alfi Azizah, dan Naila Hafizah, di bawah bimbingan Andini Octaviana Putri, SKM., M.Kes., berharap remaja semakin mampu mengenali komunikasi yang menyakitkan dan tidak menormalisasikannya sebagai bagian yang wajar dalam hubungan pacaran. Sebab, di balik romansa yang terlihat indah, hubungan yang sehat tidak hanya terbangun atas dasar rasa cinta, tetapi juga komunikasi yang sehat, rasa aman, saling menghargai, dan kemampuan menyelesaikan konflik tanpa saling menyakiti.















