Banjar – Upaya membumikan pengobatan alami berbasis potensi lokal kembali digaungkan mahasiswa Program Pendidikan Profesi Ners Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Melalui program Keperawatan Kesehatan Lahan Basah bertajuk SANGRAI (Atasi Maag dengan Serai), para ners muda turun langsung ke rumah warga RT 01–03 Desa Sungai Asam, Kecamatan Karang Intan, Jumat (13/02/2026).
Sebanyak 20 keluarga menjadi sasaran utama kegiatan pengabdian masyarakat tersebut. Program ini lahir dari keprihatinan atas masih tingginya keluhan penyakit maag di tengah masyarakat, serta belum optimalnya pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA), khususnya serai, sebagai terapi komplementer yang mudah dijangkau.
Dalam suasana yang hangat dan komunikatif, mahasiswa memulai kegiatan dengan memperkenalkan tujuan program sekaligus menggali pengalaman warga terkait keluhan lambung. Edukasi kemudian difokuskan pada pemahaman tentang gastritis (maag), kandungan alami serai, hingga cara pengolahan sederhana yang aman untuk membantu meredakan gejala.
Tak berhenti pada penyuluhan, tim juga membagikan selebaran edukasi serta bibit serai lengkap dengan media tanam. Langkah ini menjadi bentuk nyata pemberdayaan keluarga agar mampu memanfaatkan pekarangan rumah sebagai sumber kesehatan mandiri, selaras dengan karakteristik lingkungan lahan basah.
Ketua pelaksana kegiatan menegaskan, SANGRAI bukan sekadar program penyuluhan, melainkan gerakan kecil menuju kemandirian kesehatan keluarga.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya tahu manfaatnya, tetapi juga terampil menanam dan memanfaatkannya secara berkelanjutan,” ujarnya.
Antusiasme warga terlihat dari interaksi aktif selama diskusi berlangsung. Sejumlah peserta bahkan berbagi pengalaman penggunaan ramuan tradisional dalam keluarga mereka. Respons positif ini menjadi indikator bahwa pendekatan promotif dan preventif berbasis potensi lokal masih relevan dan dibutuhkan.
Melalui program SANGRAI, mahasiswa Profesi Ners FKIK ULM menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat tidak hanya berbicara tentang edukasi, tetapi juga membangun kesadaran kolektif untuk kembali memanfaatkan kekayaan alam sekitar. Dari pekarangan rumah, langkah kecil menjaga kesehatan pun dimulai.












