Banjarbaru — Perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan baru dalam upaya perlindungan kesehatan masyarakat. Salah satunya praktik prostitusi yang memanfaatkan platform daring, yang turut meningkatkan kompleksitas upaya pencegahan infeksi menular seksual (IMS) dan HIV.
Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengungkap adanya kesenjangan antara kesadaran risiko kesehatan dan perilaku pencegahan pada pekerja prostitusi daring di Kota Banjarmasin dan Banjarbaru.
Melalui penelitian bertajuk Faith, Fear, and the Hidden Health Paradox: Analisis Disonansi Kognitif terhadap Kesadaran Risiko Seksual pada Pekerja Prostitusi Daring yang dilakukan dari bulan Juni – Agustus 2026, tim melibatkan 90 responden dengan menggunakan pendekatan mix method melalui survei dan wawancara mendalam.
Hasil penelitian menunjukkan 58,9 persen responden memiliki pemahaman tinggi terhadap risiko kesehatan seksual. Namun, kesadaran tersebut belum sepenuhnya diikuti perilaku perlindungan diri yang konsisten. Sebanyak 56,7 persen responden juga menunjukkan disonansi kognitif, berupa kekhawatiran terhadap risiko kesehatan, perasaan bersalah, serta konflik antara tuntutan pekerjaan dan keyakinan pribadi.
Ketua Tim PKM-RSH ULM, Amelia Rahma, menjelaskan bahwa pengetahuan mengenai risiko belum selalu mudah diterapkan dalam praktik.
“Pemahaman mengenai risiko kesehatan sudah cukup tinggi, tetapi penerapan perilaku pencegahan masih menghadapi berbagai hambatan, salah satunya desakan ekonomi,” ujarnya.
Menggunakan Teori Disonansi Kognitif Festinger dan Health Belief Model, penelitian ini menemukan bahwa kekhawatiran terhadap penyakit dapat mendorong munculnya perilaku perlindungan diri. Sejumlah responden diketahui berupaya menyeleksi pelanggan yang dianggap berisiko tinggi dan memiliki keinginan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan seksual tidak cukup ditangani melalui edukasi mengenai risiko penyakit. Dukungan psikososial, jaring pengaman sosial, dan akses layanan kesehatan yang inklusif juga diperlukan agar pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi perilaku pencegahan.
Selain itu, terdapat indikasi berupa persoalan kesehatan seksual tidak cukup ditangani melalui edukasi mengenai risiko penyakit. Dukungan psikososial, jaring pengaman sosial, dan akses layanan kesehatan yang inklusif juga diperlukan agar pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi perilaku pencegahan.
Riset ini menegaskan bahwa di balik kesadaran terhadap risiko terdapat faktor ekonomi, psikologis, dan sosial yang memengaruhi pengambilan keputusan. Karena itu, pendekatan kesehatan yang lebih komprehensif dan tidak menghakimi menjadi penting untuk memperkuat upaya pencegahan IMS dan HIV pada kelompok yang rentan.















