Banjarbaru – Tim peneliti dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (UNISKA MAB) terus memperkuat kolaborasi bersama masyarakat. Pelaksanaan penelitian melalui Program Semesta Hibah BestariSaintek. Selain itu LPDP mendanai penelitian tersebut.
Salah satu rangkaian kegiatan penelitian terlaksanakan di Kelompok Pengrajin Purun Al Firdaus, Kampung Purun, Kota Banjarbaru yang bersinergi dengan Puskesmas Cempaka. Kegiatan meliputi cek kesehatan gratis serta pelatihan dan pembentukan Kader Kesehatan. Selain itu terdapat juga pemaparan materi Keselamatan Kerja (K3) bagi para pengrajin purun. Selain itu kegiatan terlaksana pada hari senin, 26 September 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian CRAFTHEALTH Living Lab. Kegiatan ini mengintegrasikan aspek kesehatan masyarakat, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), pemanfaatan teknologi, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat pengrajin purun. Penelitian ini melibatkan tim peneliti lintas perguruan tinggi yang menggabungkan kompetensi di bidang. Bidang tersebut berupa Keperawatan komunitas, Keselamatan dan kesehatan kerja(K3), Kesehatan lingkungan, Teknologi informasi, Pendidikan Fisika dan Pendidikan Ekonomi.
Annisa Febriana, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.Kom dari Universitas Lambung Mangkurat sebagai Ketua Peneliti mengetuai penelitian. Tim juga melibatkan Restiana Kartika Mantasti Hapsari, SiT., M.Kes, Laily Khairiyati, S.K.M., MPH, Budi Ramadhani, S.Kom., M.Kom, Dewi Dewantara, M.Pd, Dr.Sri Hartini, M.Sc, dan Mahmudah Hasanah, M.Pd.

Kolaborasi lintas institusi tersebut menjadi kekuatan dalam pelaksanaan CRAFTHEALTH Living Lab. Oleh kerena itu, setiap tahapan penelitian akan berkembang dengan pendekatan multidisiplin ilmu dan berbasis pada kebutuhan nyata masyarakat.
Pada kegiatan tersebut, para pengrajin Purun Al Firdaus memperoleh pemeriksaan kesehatan secara gratis dengan dukungan tenaga kesehatan dari Puskesmas Cempaka Banjarbaru. Pemeriksaan kesehatan terlaksana sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran pengrajin. Selain itu, juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan dan melakukan deteksi dini terhadap kondisi kesehatan.
Peserta juga memperoleh edukasi mengenai pemeliharaan kesehatan serta faktor-faktor yang dapat memengaruhi kesehatan selama melakukan aktivitas pekerjaan.
Bagi para pengrajin, kesehatan merupakan bagian penting dalam mendukung keberlangsungan aktivitas produksi. Kondisi kesehatan yang baik akan dapat mendukung produktivitas sekaligus meningkatkan kualitas kehidupan para pengrajin dan keluarganya.
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut dengan pelatihan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dan pembentukan Kader Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) bagi Pengrajin Purun Al Firdaus.
Materi pelatihan berisi pengenalan potensi bahaya di lingkungan kerja, pencegahan kecelakaan kerja, penerapan perilaku kerja yang aman. Selain itu, juga berisi pemeliharaan kesehatan selama bekerja dan pengenalan prinsip ergonomi yang sesuai dengan aktivitas pengrajin purun.
Kader K3 yang dibentuk diharapkan menjadi penggerak di lingkungan kelompok pengrajin. Kader berperan membantu menyebarluaskan pengetahuan, mengingatkan penerapan praktik kerja yang aman. Selain itu, mereka juga mendorong terbentuknya budaya kesehatan dan keselamatan kerja secara berkelanjutan.
Ketua Peneliti Annisa Febriana, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.Kom. menyampaikan bahwa aspek kesehatan dan keselamatan kerja menjadi salah satu komponen penting dalam pengembangan CRAFTHEALTH Living Lab.
“Kami ingin penelitian ini tidak berhenti pada kegiatan pemeriksaan kesehatan atau pelatihan saja. Yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan dan praktik K3 dapat menjadi bagian dari keseharian para pengrajin. Karena itu, pembentukan kader diharapkan dapat menjadi penggerak yang melanjutkan praktik kesehatan dan keselamatan kerja di komunitas pengrajin.”
Menurutnya, pendekatan living lab memungkinkan masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga terlibat aktif dalam mengidentifikasi permasalahan dan mengembangkan solusi yang sesuai dengan kondisi lokal.
“Pengrajin adalah mitra utama dalam penelitian ini. Mereka memiliki pengalaman dan pengetahuan yang sangat penting untuk menjadi dasar pengembangan inovasi. Perguruan tinggi hadir bersama masyarakat untuk mencari solusi yang tepat, aplikatif, dan berkelanjutan.”
Sementara itu, narasumber pelatihan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), Restiana Kartika Mantasti Hapsari, S.Si.T., M.Kes. Ia menekankan pentingnya penerapan prinsip ergonomi dan keselamatan kerja untuk mencegah keluhan muskuloskeletal pada pengrajin purun.
Melalui pelatihan dan uji coba SOP K3, pengrajin mendapatkan pemahaman mengenai identifikasi risiko kerja, postur kerja ergonomis, penggunaan alat pelindung diri, serta kebiasaan kerja yang aman. Ia juga menekankan bahwa penerapan K3 dapat memulai dari langkah sederhana. Seperti memperbaiki posisi duduk, melakukan peregangan, dan mengatur waktu istirahat.
Pembentukan kader K3 diharapkan mampu mendorong penerapan budaya kerja yang sehat, aman, dan berkelanjutan di komunitas pengrajin purun.
Sementara itu, Acil Siti Mariyana, salah satu mitra dan pemilik Kerajinan Purun Al Firdaus, menyambut baik pelaksanaan kegiatan pemeriksaan kesehatan dan pelatihan K3.
“Kami sangat senang dengan adanya kegiatan seperti ini. Selain bisa memeriksa kesehatan, kami juga mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana bekerja dengan lebih aman dan menjaga kesehatan saat membuat kerajinan purun.”
Menurutnya, pengetahuan mengenai K3 penting bagi pengrajin karena mereka membuat kerajinan secara rutin dan membutuhkan waktu yang cukup lama.
“Adanya pelatihan ini, kami jadi lebih mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan saat bekerja. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilanjutkan dan memberikan manfaat bagi para pengrajin di Kampung Purun.”
Perwakilan Puskesmas Cempaka dari bidang K3, Bapak Erwan, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan perguruan tinggi dan kelompok pengrajin merupakan langkah positif dalam memperkuat upaya kesehatan dan keselamatan kerja di masyarakat.
“Kegiatan ini menjadi kesempatan yang baik untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya para pengrajin, mengenai pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja. Pemeriksaan kesehatan juga membantu masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya.”
Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan setelah pelatihan selesai.
“Kami berharap kader yang sudah dibentuk dapat menjadi perpanjangan tangan dalam menyampaikan informasi K3 kepada pengrajin lainnya. Penerapan K3 tidak hanya dilakukan ketika ada kegiatan, tetapi dapat menjadi kebiasaan dalam aktivitas kerja sehari-hari.”
Pelaksanaan kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun Kampung Purun Kelurahan Palam sebagai ruang pembelajaran dan inovasi berbasis Masyarakat dan melibatkan mitra/Masyarakat setempat. Melalui konsep living lab, berbagai permasalahan para pengrajin akan teridentifikasi secara langsung. Kemudian akan berkembang menjadi dasar untuk penerapan solusi yang sesuai dengan kebutuhan lokal.
Penguatan K3 melalui pembentukan kader menjadi salah satu langkah awal. Selanjutnya, CRAFTHEALTH Living Lab juga diarahkan pada pengembangan berbagai inovasi. Antara lain Hybrid Solar Dryer, Eco-Dye, Mini-IPAL biologis, serta penguatan sistem informasi. Selain itu, terdapat juga promosi Kampung Purun melalui website e-comerce purun yang akan tim peneliti kembangkan. Program tersebut akan dapat mendukung peningkatan kesehatan dan keselamatan kerja sekaligus produktivitas dan keberlanjutan usaha masyarakat pengrajin purun.
Sinergi antara ULM, UNISKA, Kelurahan Palam, Puskesmas Cempaka, dan Pengrajin Purun Al Firdaus menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, fasilitas pelayanan kesehatan, dan masyarakat dalam menghasilkan inovasi yang berorientasi pada kebutuhan nyata.
Melalui dukungan LPDP melalui Program BestariSaintek, penelitian CRAFTHEALTH Living Lab diarahkan tidak hanya menghasilkan luaran akademik. Akan tetapi, juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat melalui penguatan kesehatan, K3, teknologi, pemberdayaan, dan ekonomi berkelanjutan. Adanya keterlibatan aktif masyarakat sebagai mitra, Kampung Purun akan dapat berkembang menjadi ekosistem inovasi berbasis potensi lokal. Selain itu, juga akan mampu mempertemukan kesehatan, keselamatan kerja, teknologi, lingkungan, dan ekonomi masyarakat dalam satu kesatuan yang berkelanjutan.

















