Tanah Laut – Arah pembangunan Tanah Laut di bawah kepemimpinan Bupati H. Rahmat Trianto tak hanya dibaca dari angka-angka laporan. Di tingkat desa, geliatnya mulai terasa dalam bentuk keberanian untuk mandiri dan mengelola potensi sendiri.
Di Desa Batu Tungku, Kecamatan Panyipatan, optimisme itu tumbuh seiring perubahan pola pembangunan yang tak lagi semata bertumpu pada transfer anggaran. Pemerintah desa kini mulai bergerak menyusun strategi menghadapi tantangan efisiensi anggaran dan dinamika regulasi pusat yang terus berubah.
Kepala Desa Batu Tungku, Said Muhammad, menilai kebijakan daerah yang mendorong masuknya investasi ke desa menjadi ruang baru bagi kemandirian fiskal desa. Menurutnya, langkah tersebut memberi harapan agar desa memiliki sumber Pendapatan Asli Desa (PADes) yang lebih berkelanjutan.
“Alhamdulillah kita tetap bersyukur dengan dana yang ada. Tapi setelah adanya pemangkasan, kita harus menyikapinya dengan memaksimalkan potensi. Ada investor yang datang, mudah-mudahan desa bisa mendapatkan PAD dari perusahaan tersebut,” ujarnya, Senin (02/02/2026).
Ia menyebut, komunikasi dengan calon investor sejak awal 2026 menunjukkan sinyal positif. Jika terealisasi, kehadiran investasi itu diharapkan mampu menopang pembangunan fasilitas desa tanpa sepenuhnya bergantung pada anggaran rutin.
Dari sisi legislatif desa, Ketua BPD Batu Tungku, Siswanto, melihat kepemimpinan H. Rahmat Trianto membawa arah baru yang mulai terlihat dampaknya, meski pembangunan dilakukan bertahap.
“Sedikit banyak kita sudah merasakan dampak positifnya. Memang belum semuanya, tapi tanda-tanda ke arah yang lebih baik sudah terlihat,” ucapnya.
Namun demikian, ia mengingatkan agar percepatan pembangunan tetap diimbangi dengan pengawasan yang ketat, terutama pada sektor pertanian. Distribusi pupuk bersubsidi, menurutnya, harus benar-benar transparan dan melalui mekanisme musyawarah kelompok tani.
“Harus ada rapat RDKK yang jelas. Jangan sampai pupuk habis atau dijual keluar dengan harga mahal. Petani kecil yang hanya butuh beberapa sak justru kesulitan,” tegasnya.
Selain pengawasan pupuk, masyarakat juga berharap perhatian serius terhadap infrastruktur dasar. Jalan poros desa dan jembatan penghubung antar-dusun yang telah termakan usia dinilai perlu segera dibenahi demi keselamatan dan kelancaran aktivitas warga, terutama akses anak sekolah.
“Kami ingin jalan diperlebar dan diaspal ulang karena sudah rusak. Termasuk jembatan akses anak sekolah antara Dusun 3 dan 4, itu sudah lama dan kondisinya memprihatinkan,” tambahnya.
Gambaran dari Batu Tungku menjadi cerminan bahwa pembangunan daerah bukan hanya soal proyek fisik, tetapi juga soal keberanian desa menata potensi dan memastikan distribusi manfaat berjalan adil.
Dengan sinergi antara pemerintah daerah dan desa, serta pengawasan yang diperkuat, harapan masyarakat Batu Tungku terhadap kemajuan Bumi Tuntung Pandang kini tidak lagi sekadar wacana, melainkan proses yang mulai mereka rasakan langkah demi langkah.















