Mitos Bulan Muharram yang Salah: Mengungkap Fakta di Balik Kepercayaan dan Kearifan Lokal

- Penulis

Senin, 26 Agustus 2024 - 10:50 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Batulicin – Ada beberapa mitos bulan Muharram yang tidak benar di masyarakat. Bagi sebagian orang di Indonesia, bulan Muharram atau bulan Suro adalah bulan keramat.

Pada tanggal-tanggal di bulan Muharram tertentu sebagian masyarakat tersebut menghentikan aktivitas-aktivitas yang bersifat hajatan besar hingga menghindari perjalanan jauh. Alasannya, pada hari itu dianggap sebagai hari nahas atau sial.

Bulan Muharram juga ditakuti bagi pasangan yang hendak menikah. Oleh karena itu, mereka sangat menghindarinya dan memilih pernikahan dilaksanakan pada bulan-bulan lain.

Pasalnya, menurut mereka, pernikahan yang dilangsungkan pada bulan Muharram kerap mendatangkan sial bagi pasangan, seperti perceraian, kematian, tidak harmonis, dililit utang, dan sebagainya.

Sayangnya, budaya ini sudah mengakar di tengah masyarakat. Tidak diketahui secara pasti dari mana sumbernya.

“Sejatinya mitos tersebut tidak dibenarkan dalam ajaran Islam,” kata Ustadz Abdullah Zaen Lc MA.

Ia menerangkan, dari segi syariat, Muharram adalah bulan mulia dan termasuk golongan empat bulan istimewa yang disucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Disunnahkan memperbanyak puasa pada bulan Muharram. Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

“أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ”.

“Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah bulan Allah; Muharram. Dan sholat paling utama sesudah sholat fardhu adalah sholat malam.” (HR Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah).

Terlebih lagi berpuasa pada tanggal 10 Muharram (Asyura), ditambah dengan tanggal 9 atau 11 Muharram (Tasua). Rasulullah Shallallahu’laihiwasallam bersabda:

”وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاء أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ”.

Baca Juga:  Menghadiri Maulid Nabi Muhammad SAW di Mushola Baitul Makmur, H. Risdianto Haleng Terus Lanjutkan Agenda Safari Dakwahnya

“Aku berharap pada Allah agar puasa di hari Asyura (10 Muharram) bisa menghapuskan dosa satu tahun lalu.” (HR Muslim dan Ahmad dari Abu Qatadah)

Ustadz Abdullah Zaen melanjutkan, sedangkan yang dilarang oleh syariat Islam pada bulan Muharram adalah melakukan peperangan, kecuali apabila umat Islam diperangi. Termasuk diharamkan pula perbuatan-perbuatan menzalimi diri sendiri.

“Perbuatan maksiat di bulan ini dilipatgandakan dosanya. Apalagi jika maksiat tersebut bernuansa syirik dan khurafat, seperti keyakinan bahwa bulan ini adalah bulan sial,” tegasnya.

Meyakini adanya hari atau bulan sial merupakan bentuk celaan terhadap waktu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan, dan itu berisiko mencela Allah yang menciptakannya.

Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

“لاَ تَسُبُّوا الدَّهْرَ؛ فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرُ”.

“Janganlah kalian mencela dahr (waktu) karena Allah itu adalah dahr.” (HR Muslim (XV/6 nomor 5827) dari Abu Hurairah)

Maksudnya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah pencipta waktu, sebagaimana terdapat dalam riwayat lain yang menjadi penafsir hadits di atas. Lalu mencela ciptaan Allah Ta’ala berisiko mencela penciptanya.

Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

“قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: يُؤْذِيْنِيْ ابْنُ آدَمَ، يَسُبُّ الدَّهْرَ، وَأَنَا الدَّهْرُ، بِيَدِيَ الْأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ”.

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Anak Adam telah menyakiti-Ku; ia mencela dahr (waktu), padahal Aku adalah (pencipta) dahr. Di tangan-Ku segala perkara, Aku memutar malam dan siang.” (HR Bukhari, halaman 1034, nomor 5827, dan Muslim (XV/5 nomor 5824) dari Abu Hurairah).

 

sumber : muslim.okezone.com

Berita Terkait

Haji Isam, Tegas di Bisnis Hangat Bersama Keluarga
Buka Bersama dan Peringatan Nuzulul Qur’an Perkuat Silaturahmi Antar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Se-Kabupaten Banjar
Retreat Kepala Daerah : Bang Arul dan Wamentan Menyusuri Sejarah Islam di Gunung Tidar
Bupati Tanah Bumbu Andi Rudi Latif Antusias Ikuti Retreat Kepala Daerah di Magelang
Kenakan Seragam Militer, H. Bahsanuddin Hadiri Retreat Wakil Kepala Daerah
Prabowo Luncurkan BPI Danantara, Begini Tanggapan H. Risdianto Haleng
Keunikan Peringatan Isra Miraj di Kalimantan Timur: Dihiasi Doa Haul Guru Sekumpul
Kisah Menakjubkan: Guru Bakri Saksikan Karomah Abah Guru Sekumpul di Dua Tempat Sekaligus

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 01:48 WITA

Kades Tanah Laut Perdalam Kepemimpinan di IPDN, Fokus pada Tata Kelola Desa yang Akuntabel

Selasa, 14 April 2026 - 05:09 WITA

Bupati Tanah Laut Dorong Transformasi Kepemimpinan Desa Melalui Pelatihan di IPDN

Selasa, 14 April 2026 - 04:53 WITA

ASN Tanah Laut Diingatkan Tingkatkan Kinerja dan Disiplin, Apel Gabungan Jadi Momentum Evaluasi Nyata

Minggu, 12 April 2026 - 08:03 WITA

Antusiasme Warga Membludak, Nobar Film “Kuyang” di Pelaihari Jadi Ajang Hiburan Sekaligus Seruan Bangun Bioskop

Jumat, 10 April 2026 - 17:55 WITA

Tanah Laut Jadi Episentrum Gerakan Tanam Serempak 10.000 Hektar, Dorong Kedaulatan Pangan Nasional

Kamis, 9 April 2026 - 01:54 WITA

Pelantikan ASN Tanah Laut 2026, Bupati Rahmat Trianto Soroti Etos Kerja dan Integritas

Kamis, 9 April 2026 - 01:26 WITA

Pemkab Tanah Laut Dukung Penuh Pembangunan Ponpes Al Mubarok Putera di Sarang Halang

Senin, 6 April 2026 - 22:01 WITA

Dari PKK ke Pramuka, Hj. Dian Rahmat Dorong Tertib Administrasi KTA Nasional 2026

Berita Terbaru

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x