Samarinda – Peringatan Isra Miraj di Kalimantan Timur memiliki nuansa yang khas dan berbeda dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Di wilayah ini, peringatan tersebut sering digelar bersamaan dengan doa haul Guru Sekumpul, yang menjadi salah satu tradisi keagamaan yang sangat dihormati oleh masyarakat setempat.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Timur, KH. Muhammad Rasyid, menjelaskan bahwa tradisi ini menjadi daya tarik luar biasa bagi umat Islam di daerah tersebut.
“Peringatan Isra Miraj di Kalimantan Timur tidak hanya dirayakan secara tradisional, tetapi juga dirangkai dengan doa haul Guru Sekumpul. Ini menjadi sesuatu yang sangat khas di sini, bahkan saya sulit menemukan ulama lain di Indonesia yang haulnya diperingati begitu semarak seperti Guru Sekumpul,” ujarnya, Senin (27/1).
Pada tahun 2025 ini, haul Guru Sekumpul memasuki tahun ke-20. Setiap tahunnya, lebih dari 4 juta umat Muslim dari berbagai daerah memadati acara tersebut, yang menunjukkan betapa besarnya penghormatan masyarakat terhadap ulama besar asal Kalimantan Selatan ini.
KH. Muhammad Rasyid juga menambahkan bahwa pelaksanaan peringatan Isra Miraj dan haul Guru Sekumpul berlangsung dengan lancar, tanpa kendala berarti.
“Di Samarinda, jika dikatakan ada kendala, tidak ada sama sekali. Semuanya berjalan dengan baik,” tegasnya.
Lebih dari sekadar perayaan, KH. Muhammad Rasyid berharap agar momen Isra Miraj dapat menjadi kesempatan bagi umat untuk menerapkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
“Pesan kita, Isra Miraj bukan hanya dirayakan, tetapi juga menjadi momen untuk menerapkan ilmu yang didapat, terutama nilai-nilai keislaman dalam kehidupan kita,” tuturnya.
Guru Sekumpul, yang dikenal juga dengan nama Abah Guru Sekumpul, lahir dengan nama Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari pada 11 Februari 1942 di Tunggul Irang, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Beliau merupakan keturunan ke-8 dari ulama besar Banjar, Maulana Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari. Sejak kecil, Abah Guru Sekumpul dibesarkan dalam lingkungan yang sangat menjunjung tinggi pendidikan tauhid dan akhlak. Ayah dan neneknya menanamkan disiplin serta kecintaan terhadap ilmu agama.
Selain didikan keluarga, Abah Guru Sekumpul juga mendapatkan pendidikan langsung dari pamannya, Syekh Seman Mulia, yang memperkenalkannya kepada tokoh-tokoh Islam terkemuka di Kalimantan Selatan dan Jawa, termasuk al-Alim al-Allamah Syaikh Anang Sya’rani, seorang ahli hadis dan tafsir.
Abah Guru Sekumpul dikenal sebagai sosok yang rendah hati, penyabar, pemurah, dan penuh kasih sayang terhadap semua orang, kualitas yang mencerminkan ajaran yang ia sampaikan sepanjang hidupnya. Hingga kini, ajaran dan pengaruhnya masih terus hidup di kalangan masyarakat, terutama di Kalimantan.















