Tanah Laut – Pimpinan Wilayah Bulog Kalimantan Selatan, Dani Satrio, resmi dicopot dari jabatannya pada Selasa (18/3) malam. Keputusan ini merupakan dampak dari kunjungan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, ke Tanah Laut, Kalimantan Selatan.
Menteri Amran mengungkapkan kekecewaannya terhadap kinerja Bulog Kalsel, yang dinilai tidak responsif terhadap kepentingan petani. Ia menyoroti bagaimana petani dibiarkan menunggu kepastian harga di sawah, sementara Bulog hanya menunggu di gudang tanpa mengambil langkah aktif.
“Kalau ada yang tidak mau bekerja untuk rakyat, lebih baik minggir,” tegas Amran.
Salah satu permasalahan utama yang disoroti adalah ketidaksiapan Bulog Kalsel dalam menyerap gabah petani. Akibatnya, banyak petani terpaksa menjual hasil panen mereka kepada tengkulak dengan harga di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Selain itu, persyaratan pembelian yang dianggap memberatkan seperti kewajiban gabah harus benar-benar kering, serta keterlambatan pembayaran dari Bulog semakin menyulitkan petani dalam memutar modal.
Melihat kondisi tersebut, Amran mengambil langkah tegas dengan mencopot Dani Satrio dari jabatannya sebagai Pimwil Bulog Kalsel. Ia menegaskan bahwa keputusan ini bukan sebagai hukuman, melainkan upaya serius untuk memperbaiki sistem serapan gabah petani.
“Pencopotan ini bukan bentuk hukuman, tetapi langkah nyata untuk meningkatkan sistem serapan gabah ke depan,” ujar Amran.
Amran juga menginstruksikan agar Bulog Kalsel lebih proaktif turun ke lapangan dan memastikan petani tidak lagi menunggu kepastian harga terlalu lama. Ia menekankan pentingnya perubahan sistem agar petani tidak terus dirugikan.
“Kita tidak bisa membiarkan petani terus merugi. Harus ada perbaikan nyata, bukan sekadar menunggu di gudang,” tandasnya.
Dengan langkah ini, diharapkan sistem serapan gabah di Kalimantan Selatan dapat diperbaiki, sehingga harga gabah tetap stabil dan petani tidak lagi merasa terabaikan saat panen raya.















