Banjar – Upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Upaya tersebut melalui kegiatan promotif, preventif, dan pemberdayaan masyarakat. Salah satunya oleh Program Studi Pendidikan Profesi Ners Jurusan Keperawatan Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Dengan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema “Desa Tanggap Karhutla”.
Mereka bekerja sama dengan Pemerintah Desa Sungai Alang dan Sungai Landas, Kabupaten Banjar dan Puskesmas Karang Intan 2. Sebagai bentuk kolaborasi dalam meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat di tengah kondisi kabut asap.
Kegiatan “Desa Tanggap Karhutla” terrancang sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap. Terkhususnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Rangkaian kegiatan meliputi pembentukan Pojok Filtrasi, pendidikan kesehatan mengenai ISPA dan cara pencegahannya. Selain itu, terdapat jugapemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan bahan herbal berupa seduhan jeruk nipis dan madu. Kedua bahan tersebut sebagai upaya sederhana untuk membantu meredakan keluhan batuk.
Salah satu kegiatan utama dalam program ini adalah pembentukan Pojok Filtrasi, yaitu ruang sederhana yang memanfaatkan tanaman sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan mendukung kualitas udara di lingkungan masyarakat.
Program ini mulai dari tanggal 13 September 2026 dan diresmikan pada 01 Oktober 2026. Kehadiran Pojok Filtrasi semoga dapat menjadi contoh sederhana bagi masyarakat mengenai pentingnya menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan sehat ketika terjadi paparan asap akibat karhutla. Tanaman yang ada di pojok filtrasi juga memiliki manfaat untuk menangkap asap agar tidak menyebar luas sehingga lingkungan sekitar pojok filtrasi menjadi lebih bersih.
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut dengan pendidikan kesehatan mengenai Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Selain itu, terdapat juga langkah-langkah pencegahannya di tengah kondisi kabut asap pada 14 September 2026.

Materi berisi pendekatan sederhana dan mudah masyarakat pahami. Edukasi mencakup pengenalan ISPA, faktor risiko, tanda dan gejala yang perlu diperhatikan, dampak paparan asap terhadap kesehatan. Selain itu ada tindakan yang dapat masyarakat lakukan untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan.
Masyarakat juga mendapat pemahaman mengenai pentingnya mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menggunakan masker yang sesuai ketika berada di lingkungan berasap, menjaga asupan cairan, memperhatikan kondisi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta individu dengan penyakit pernapasan, dan segera mencari pelayanan kesehatan apabila muncul keluhan yang semakin berat.
Selain pendekatan lingkungan dan edukasi kesehatan, kegiatan “Desa Tanggap Karhutla” juga menghadirkan unsur pemberdayaan masyarakat. Yaitu melalui pemanfaatan bahan yang ada di lingkungan sekitar, seperti jeruk nipis dan madu.
Masyarakat memperoleh edukasi dan praktik sederhana mengenai pembuatan seduhan jeruk nipis dan madu. Karena memiliki manfaat sebagai minuman pendamping untuk membantu memberikan rasa nyaman pada tenggorokan dan membantu meredakan keluhan batuk ringan.
Kegiatan ini sekaligus memperkenalkan potensi pemanfaatan sumber daya lokal yang sederhana dan mudah masyarakat dapatkan. Selain dapat meningkatkan nilai ekonomis apabila di pasarkan oleh masyarakat lebih lanjut.
Pelaksanaan kegiatan “Desa Tanggap Karhutla” turut mendapat dukungan melalui kolaborasi antara Program Studi Pendidikan Profesi Ners Jurusan Keperawatan ULM, Pemerintah Sungai Alang dan Sungai Landas, dan Puskesmas Karang Intan 2.
Kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi dampak karhutla. Peran dosen dan mahasiswa Profesi Ners terarahkan pada pelaksanaan kegiatan promotif dan preventif, sementara pemerintah desa mendukung keterlibatan masyarakat dan keberlanjutan program di tingkat desa. Puskesmas turut berperan dalam penguatan informasi dan edukasi kesehatan kepada masyarakat.
Pendekatan kolaboratif ini semoga dapat memperkuat hubungan antara institusi pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat. Sehingga dapat menghadapi permasalahan kesehatan akibat kondisi lingkungan.
Melalui program “Desa Tanggap Karhutla”, Program Studi Profesi Ners ULM berupaya menghadirkan kegiatan pengabdian masyarakat yang tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada masyarakat melalui intervensi lingkungan, pendidikan kesehatan, dan pemberdayaan berbasis sumber daya lokal.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi Program Studi Pendidikan Profesi Ners Jurusan Keperawatan Universitas Lambung Mangkurat dalam menjalankan peran keperawatan di masyarakat melalui pendekatan promotif, preventif, dan pemberdayaan masyarakat. Melalui semangat “Desa Tanggap Karhutla”, masyarakat diharapkan semakin siap melindungi kesehatan diri, keluarga, dan lingkungan ketika menghadapi ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.















