Banjar – Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan (UNUKASE) kembali menorehkan prestasi melalui keberhasilan tim dosen dan mahasiswa yang lolos pendanaan Program Mahasiswa Berdampak–Aksara Peduli Tahun 2026. Kepastian tersebut tertuang dalam surat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Nomor 1386/DST/C3/DT.06.01/2026 tertanggal 7 Oktober 2026.
Tim UNUKASE mengusung program “Inovasi Tanur Pengering Padi dan Sapat Berbasis IoT Tenaga Surya di Daerah Rawan Banjir Desa Sungai Bangkal Kabupaten Banjar.” Redhana Aulia mengetuai dalam program ini dengan anggota Farah Hafizha dan Mia Fitria.
Pelaksanaan program akan melibatkan 21 mahasiswa dari delapan program studi. Mereka mendampingi Kelompok Tani Warga Makmur dan Tim Penggerak PKK Desa Sungai Bangkal, Kabupaten Banjar. Inisiatif ini bertujuan menghadirkan solusi teknologi bagi masyarakat. Terkhususnya dalam mengatasi kendala pengeringan hasil pangan yang selama ini bergantung pada kondisi cuaca.
Selain itu, inovasi ini mencakup Smart Drying-Gabah dan Smart Drying-Ikan Asin Sapat berbasis Internet of Things (IoT), dengan sensor suhu dan kelembapan serta memanfaatkan energi surya. Teknologi tersebut bertujuan untuk membantu masyarakat mengoptimalkan proses pengeringan, menjaga mutu hasil pangan, dan meningkatkan nilai ekonomi produk pertanian maupun perikanan.
Rektor UNUKASE Apresiasi Inovasi Berdampak bagi Masyarakat
Rektor UNUKASE, Dr. Ir. H. Abrani Sulaiman, M.Sc., menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi kepada tim dosen yang berhasil memperoleh hibah Program Mahasiswa Berdampak–Aksara Peduli Tahun 2026.
Menurutnya, program tersebut sejalan dengan visi UNUKASE dalam mendorong lahirnya inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pembangunan kawasan pedesaan.
“Kami mengucapkan selamat dan memberikan apresiasi kepada tim UNUKASE yang berhasil lolos hibah Program Mahasiswa Berdampak–Aksara Peduli Tahun 2026. Program ini merupakan wujud kontribusi perguruan tinggi dalam menghadirkan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat. Kami berharap teknologi yang dikembangkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, meningkatkan produktivitas masyarakat, serta mendukung pembangunan desa,” ujar Dr. Abrani.
Ia juga berharap keterlibatan mahasiswa lintas program studi menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa. Sehingga mereka dapat mengembangkan kompetensi, kepedulian sosial, dan kemampuan memecahkan persoalan nyata di tengah masyarakat.
Adaptasi Teknologi Paten untuk Wilayah Rawan Banjir
Teknologi utama dalam program ini merupakan adaptasi dari Paten Sederhana “Tanur Pengering Radiasi Matahari Semi Rumah Kaca” Nomor IDS000008144. Berdasarkan sertifikat paten, pemegang paten adalah LPPM Universitas Lambung Mangkurat, dengan inventor Wiwin Tyas Istikowati, S.Hut., M.Sc., Ph.D., Sunardi, S.Si., M.Sc., Ph.D., dan Ir. Sunardi, MS. Paten tersebut diterima pada 26 November 2019 dan diberikan pada 22 Mei 2024.
Dalam penerapannya di Desa Sungai Bangkal, teknologi tersebut akan menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat serta berpadu dengan sistem IoT. Sistem ini memungkinkan pemantauan suhu, kelembapan, waktu, serta pencatatan proses pengeringan sehingga pelaksanaannya dapat terlaksana secara lebih terukur.
Ketua tim, Redhana Aulia, menyampaikan bahwa keberhasilan memperoleh hibah tersebut menjadi kesempatan untuk mendekatkan hasil inovasi perguruan tinggi kepada masyarakat.
“Kami bersyukur atas kepercayaan yang diberikan melalui program ini. Bagi kami, keberhasilan bukan hanya pada diperolehnya hibah, tetapi bagaimana teknologi yang diterapkan benar-benar mampu menjawab persoalan masyarakat, meningkatkan mutu pangan, memperkuat usaha, dan pada akhirnya dapat digunakan secara mandiri dan berkelanjutan oleh masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, anggota tim Farah Hafizha menekankan pentingnya menyesuaikan penerapan teknologi dengan karakteristik wilayah yang rawan banjir. Pendekatan tersebut akan dapat membantu masyarakat menghadapi kendala pengeringan hasil pangan, terutama ketika kondisi cuaca tidak mendukung penjemuran secara konvensional.
Anggaran Rp119,99 Juta, Targetkan Peningkatan Mutu Hasil Pangan
Program ini memiliki total anggaran pengusulan sebesar Rp119.991.000. Anggrana tersebut untuk mendukung penerapan teknologi dan inovasi, pelatihan, pendampingan masyarakat, penguatan manajemen usaha, pengukuran mutu, serta pengembangan pemasaran produk.
Sejumlah target yang ingin akan tercapai antara lain sedikitnya 80 persen batch gabah mencapai kadar air maksimal 14 persen. Selain itu, berkurangnya penggunaan badan jalan sebagai tempat penjemuran, meningkatnya kemampuan masyarakat dalam mengoperasikan teknologi pengeringan. Oleh karena itu, dapat mengembangkan produk olahan ikan sapat.
Melalui kolaborasi dosen, mahasiswa, kelompok tani, dan TP PKK, program ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola hasil pangan sekaligus membuka peluang pengembangan usaha produktif berbasis potensi lokal.
Keberhasilan tim UNUKASE memperoleh hibah ini juga menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi. Karena untuk mendukung ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi desa, dan adaptasi terhadap tantangan lingkungan. Program tersebut selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Terkhususnya tujuan ke-2 tentang tanpa kelaparan, ke-8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Selain itu, sekaligus mendukung Asta Cita ke-6 dalam pembangunan dari desa dan pemerataan ekonomi.















