Tanah Bumbu – Tingginya risiko kecelakaan di Jalan Alternatif Batulicin-Banjarbaru menjadi perhatian DPRD Kabupaten Tanah Bumbu.
Persoalan keselamatan di ruas jalan tersebut dibahas DPRD Tanbu bersama sejumlah pihak lintas sektoral, menyusul masih seringnya terjadi kecelakaan yang melibatkan pengguna jalan.
Jalan alternatif yang menghubungkan Batulicin dengan Banjarbaru itu menjadi salah satu jalur penting bagi masyarakat. Namun, kondisi geografis di sejumlah titik dinilai membutuhkan perhatian lebih, terutama bagi pengendara yang melintas.
Salah satu kawasan yang mendapat sorotan berada di wilayah Kecamatan Mantewe.
Kondisi jalan yang memiliki turunan dan tikungan menjadi salah satu faktor yang dinilai perlu diantisipasi. Pengendara yang tidak mengenali karakteristik jalan berpotensi kehilangan kendali, terlebih ketika melaju dengan kecepatan tinggi.
Hal tersebut diungkapkan KBO Satlantas Polres Tanah Bumbu, Aiptu Amin Firdaus, dalam Rapat Kerja Gabungan Komisi DPRD Tanah Bumbu bersama jajaran kepolisian, TNI, Dinas PUPR Provinsi Kalsel, Dinas PUPR Tanah Bumbu, serta Dinas Perhubungan Tanah Bumbu, Senin (10/08/2026).
Amin mengatakan, kondisi tersebut diketahui setelah pihaknya melakukan survei langsung di lapangan.
Menurutnya, persoalan utama berada pada pandangan pengendara ketika memasuki ruas tersebut. Jalan yang tampak lurus dari kejauhan ternyata berbelok setelah turunan.
“Yang kencang melihat di ujung seperti lurus. Ketika sudah mendekati, ternyata jalan menikung dan tidak sempat lagi menghindar,” ujarnya.
Situasi menjadi semakin berbahaya ketika pengendara mengambil badan jalan saat memasuki tikungan.
Apalagi, jika dari arah berlawanan terdapat kendaraan lain yang juga melaju dengan kecepatan tinggi. Potensi terjadinya kecelakaan pun semakin besar.
Amin menilai persepsi sebagian pengendara yang menganggap jalur alternatif tersebut dapat memangkas waktu perjalanan juga menjadi salah satu faktor.
Pengendara cenderung memacu kendaraan agar perjalanan lebih cepat tanpa memperhitungkan karakter jalan yang didominasi tanjakan, turunan, dan tikungan.
“Orang jadi berpikir apakah bisa lebih cepat, seperti mau mecahin rekor. Pikiran mereka juga bisa pulang pergi dan titik lelahnya berada di area Tanah Bumbu,” katanya.
Karena itu, ia mengingatkan pengendara tidak hanya mengandalkan kondisi jalan yang terlihat lengang. Kecepatan harus disesuaikan dengan medan dan kemampuan pengendara mengantisipasi tikungan.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Sejak jalur alternatif tersebut mulai digunakan, tercatat sudah terjadi 13 kecelakaan lalu lintas sejak 30 Juni 2026.
Kapolsek Mantewe, Iptu Kusnin, mengungkapkan kecelakaan yang terjadi mayoritas berlangsung pada siang hari.
Padahal, menurutnya, kondisi jarak pandang pada waktu kejadian sebenarnya cukup baik.
“Semua (kecelakaan) terjadi pada siang hari. Padahal jarak pandang cukup jelas dan kondisi jalan bisa terpantau,” katanya.
Kusnin menyebut kondisi geografis jalan menjadi tantangan tersendiri bagi pengguna jalur alternatif tersebut.
Tanjakan, turunan, hingga tikungan yang datang secara beruntun membuat pengendara perlu mengatur kecepatan sejak awal.
“Dengan medan yang liku-liku, berkelok-kelok serta tanjakan, pengguna jalan sering mengambil awalan untuk kecepatan tinggi,” jelasnya.
Ia mengimbau pengguna jalan menjaga kecepatan maksimal di bawah 60 kilometer per jam.
Kecepatan juga harus segera dikurangi ketika memasuki tikungan tajam. Untuk tikungan dengan jarak pandang terbatas, pengendara disarankan membunyikan klakson sebagai tanda bagi kendaraan dari arah berlawanan.
Sementara itu, DPRD Tanah Bumbu meminta instansi teknis segera melakukan evaluasi terhadap kondisi jalur tersebut.
Dinas PUPR diminta mengevaluasi aspek teknis jalan, sedangkan Dinas Perhubungan didorong menambah rambu-rambu serta memperjelas marka jalan di sejumlah titik yang dinilai rawan.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu pengendara membaca karakter jalan sekaligus menekan potensi kecelakaan di Jalan Alternatif Batulicin-Banjarbaru.















