September 30, 2022

Pelitanusantara.net – Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mempunyai harta karun yang tersimpan di dalam budaya kelompok etnis Banjar. Selain batu permata berkilau, Kalsel memiliki pakaian tradisional yang disebut dengan Batik Sasirangan.

Sasirangan berasal dari Bahasa Banjar, Sirang atau menyirang yang berarti menjahit bersama. Ini menggambarkan proses jahitan tangan dan tenun kain tradisional hingga membentuk sebuah corak.

Di Surabaya, Batik Sasirangan dikenalkan oleh Angga Puspoadi Negoro, Mahasiswa Unair Fakultas Sains dan Teknologi sekaligus Owner Online Shop Batik Sasirangan, Langkarai, tahun 2018 lalu.

“Awal mulanya karena ada pameran di Unair Festival Kebhinekaan. Setiap mahasiswa daerah bikin stan yang memamerkan kreasi budaya mereka. Saya sebagai orang asli Kalimantan Selatan membawa batik ini,” ujarnya saat di hubungi via telpon di kediamannya, Jalan Dharmawangsa 5, Sabtu (7/8/2021) sore.

Angga mengaku, rasa kecintaan terhadap tanah kelahirannya kian bertambah lantaran dirinya sebagai perantau di Kota Pahlawan ini. Hal itu membuat Angga ingin mengenalkan Batik Sasirangan khas Kalimantan Selatan kepada masyarakat awam

“Orang orang hanya mengetahui Batik Jawa, Tenun, Songket. Padahal Batik Sasirangan ini pembuatannya murni memakai tangan. Sebelum dijahit, kain dilukis lalu diikat dan diberi warna. Tujuan diikat supaya menghindari kontaminasi dengan warna lain. Baru kemudian kain dijahit,” terangnya.

Pembuatan batik tersebut, lanjut Angga, tergantung dari tingkat kesulitan motif permintaan konsumen. Bisa memakan waktu selama satu hari, hingga paling lama mencapai tiga hari. Mulai menyiapkan kain, peralatan lukis dan warna, serta penjemuran.

“Pernah ada yang pesan. Dari Jakarta, Surabaya, Bali, sampai ke negara Jerman. Bahkan ada juga yang pesan dari Disperta Jatim sebanyak 3 lusin buat seragam kantor pada 2019 lalu,” ungkap Angga.

“Selain itu, dari Dosen Unair tak ketinggalan ikut memesan buat pergi acara pernikahan sama kegiatan resmi lainnya. Tantangannya bagi saya adalah mengangkat Budaya Banjar dikenal sama masyarakat. Mulai dari Surabaya, Indonesia, bahkan Go Internasional,” sambungnya.

Lebih lanjut Angga memaparkan, dulunya Batik Sasirangan terlahir dari Kerajaan Banjar, di mana ada 40 pejantan membuat candi dan 40 gadis membuat batik selama satu malam secara bersamaan.

Bagikan
 
 
        

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.