Pelitanusantara.net – Kehadiran Ketua Dewan Pengurus Wilayah Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (DPW – APRI ) Provinsi Kalimantan Selatan, Risdianto Haleng HB menjadi pusat perhatian peserta rapat kerja gabungan APRI dan Komandan (Koperasi Mineral dan Pengolahan Nusantara) di Club House Cikidang Resort Kecamatan Cikidang Sabtu (13/2/2022). Jauh-jauh dia datang dari Banjarmasin ke Cikidang tujuannya untuk memperjuangkan terwujudnya regulasi dan legalitas penambang rakyat.
Setelah mengikuti acara pembukaan rapat, Haleng menyatakan optimismenya APRI dapat mencapai cita-cita mewujudkan regulasi penambang rakyat melalui kerja sama APRI dan Komandan. Dia mengharapkan APRI dan Komandan dapat menjalin kemitraan yang lebih erat dan sinergis. Terlebih dengan kedatangan tokoh nasional Budiman Sudjatmiko yang merupakan pendiri Komandan. Dengan koneksi dan kekuatan yang dimilikinya, Haleng mengharapkan Budiman bisa memperjuangkan ke pusat bagi terbitnya regulasi penambang rakyat.
Haleng juga merasa bangga bercampur bahagia bisa berada dalam satu forum rapat dengan tokoh sekaliber Budiman. Apalagi politisi PDI Perjuangan tersebut membawa serta Komandan pada rapat kerja itu. Komandan merupakan bagian dari organisasi dan sistem di Bukit Agoritma Cikidang. Dia pun mendukung 1.000 persen Komandan menjadi mitra strategis dari APRI.
“Harapan kami para penambang, Pak Budiman bisa menyampaikan atau memfasilitasi ke pemerintah pusat supaya kebutuhan regulasi penambang rakyat bisa segera terwujud. Para penambang di daerah di seluruh Indonesia membutuhkan regulasi untuk menjamin ketenangan dan kelangsungan kegiatan usaha mereka. Kehadiran Pak Budiman pada rapat kerja ini memberikan harapan regulasi tersebut akan segera lahir,” ujar pengusaha muda sukses yang memiliki puluhan kapal tongkang pengangkut batu bara ini.

Perjuangan untuk mewujudkan regulasi penambang rakyat, lanjut dia, harus dibarengi dengan peran serta dan keterlibatan semua pengurus dan anggota APRI di berbagai tingkatan kepengurusan mulai wilayah penambangan, kabupaten, provinsi, sampai pusat. Karena itu Haleng pun mengimbau para penambang rakyat untuk semua skala baik kecil maupun menengah agar proaktif menghadiri acara-acara yang diselenggarakan oleh APRI.
“Saya berharap kepada kawan-kawan penambang yang resmi ataupun penambang yang belum resmi, baik skala kecil maupun menengah, bila ada undangan diskusi dari APRI Kalsel, tolong luangkan waktu untuk hadir. Tujuannya agar mengetahui perkembangan APRI dan seluk-beluk regulasi pertambangan. Kami juga berpesan kepada para penambang rakyat agar mereka dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar tempat usaha pertambangan. Jadi mereka bukan hanya menikmati hasil usaha pertambangannya, tapi juga bermanfaat bagi masyarakat,” kata Haleng.
Di wilayah Kalsel, ujar dia, APRI berkembangan cukup pesat. DPW APRI Kalimantan Selatan terbentuk tanggal 21 Oktober 2021. Struktur kepengurusannya sudah lengkap dan memiliki pengurus di beberapa daerah. Dari total 13 kabupaten dan kota yang ada di Kalsel sudah ada 10 daerah yang membentuk DPC APRI. Kemudian DPW APRI Kalsel telah memiliki Responsible Mining Community (RMC) sebanyak 82 kepengurusan. Komoditas APRI di Kalsel sebagian besar sebanyak 90 persen adalah batu bara.
“Kami juga telah membentuk koperasi yang langsung di bawah naungan APRI. Jumlahnya baru ada dua unit. Rencananya akan ditambah lagi hingga 5 koperasi dan nantinya menjadi 13 koperasi,” jelas tokoh masyarakat Kalsel ini.
Sementara ini, DPW APRI Kalimantan Selatan fokus pada pembentukan DPC. Insya Allah, kata dia, dalam waktu dekat APRI akan terbentuk di 13 daerah yang ada di Provinsi Kalsel. Haleng pun bersiap-siap untuk mengalihkan perhatian pada pemberdayaan pengurus dan anggota. Karena itu sepulang dai Sukabumi, dia akan langsung turun ke daerah-daerah untuk menyosialisasikan hasil rapat kerja dan perkembangan terbaru terkait APRI.















