Medan – Sebuah video yang memperlihatkan seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Medan, Sumatera Utara, dihukum oleh oknum guru untuk duduk di lantai saat mengikuti pelajaran, menjadi viral di media sosial Instagram. Siswa berinisial MI, bocah 10 tahun tersebut, dihukum karena menunggak pembayaran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) selama tiga bulan.
Kejadian ini pertama kali terungkap setelah ibu MI, Kamelia (38), merekam dan membagikan video tersebut di akun media sosialnya, Rabu (8/1). Dalam video itu, terlihat MI duduk di lantai ruang kelas saat kegiatan belajar mengajar berlangsung di SD Swasta Abdi Sukma, Jalan STM, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan.
Kamelia mengakui bahwa ia memang belum melunasi uang SPP untuk anaknya. Namun, ia menegaskan telah meminta dispensasi kepada pihak sekolah agar anaknya tetap bisa mengikuti ujian sebelum liburan Natal.
“Anak saya sempat ikut ujian karena kepala sekolah memberi dispensasi. Tapi, setelah libur panjang dan masuk kembali, uang SPP masih belum bisa saya lunasi karena kondisi ekonomi yang sulit,” ujar Kamelia saat ditemui di kediamannya di Jalan Brigjen Katamso, Gang Jarak, Medan.
Kamelia juga mengungkapkan bahwa dirinya sedang sakit saat pembagian rapor anaknya, sehingga tidak bisa hadir ke sekolah untuk mengambil rapor ataupun membahas tunggakan SPP.
Video yang diunggah Kamelia memicu kecaman dari netizen, yang menilai hukuman tersebut tidak pantas diberikan kepada siswa hanya karena alasan menunggak SPP. Banyak yang mempertanyakan kebijakan sekolah terhadap siswa dari keluarga kurang mampu.
Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut. Namun, kasus ini menjadi perhatian publik dan memicu perdebatan mengenai sistem pendidikan serta perlakuan terhadap siswa yang mengalami kesulitan ekonomi.
Kamelia berharap pihak sekolah dapat lebih memahami situasi keluarganya.
“Saya tidak ingin anak saya diperlakukan seperti itu lagi. Saya berharap pihak sekolah bisa mencari solusi lain tanpa harus mempermalukan anak saya di depan teman-temannya,” ucap Kamelia.
Kasus ini mengingatkan pentingnya rasa empati dalam dunia pendidikan, terutama bagi siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Apakah hukuman seperti ini pantas diterapkan dalam lingkungan sekolah? Publik kini menunggu tindakan dan klarifikasi lebih lanjut dari pihak sekolah.















