Program ini dinilai penting karena keluarga menjadi benteng pertama dalam mencegah penyalahgunaan narkotika. Melalui para penyuluh KUA, materi mengenai dampak narkoba nantinya akan disisipkan dalam pembekalan pranikah sehingga pasangan yang akan membangun rumah tangga memiliki pemahaman yang kuat terkait bahaya penyalahgunaan zat terlarang tersebut.
“Dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba, kita juga bekerja sama dengan Kemenag. Nanti para calon pengantin akan diberikan sosialisasi tentang bahaya narkoba agar mereka memahami dampaknya terhadap keluarga dan masa depan,” jelasnya.
Tidak hanya menyasar kalangan dewasa, BNN Tanah Laut juga mulai mengarahkan perhatian terhadap perlindungan anak-anak dan remaja di wilayah pedesaan.
Langkah tersebut muncul setelah adanya masukan dari sejumlah camat terkait meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi penyalahgunaan narkoba di lingkungan desa.
Selama ini, program tes urine dan deteksi dini lebih banyak difokuskan di lingkungan sekolah. Namun ke depan, BNN berencana memperluas jangkauan pemeriksaan hingga ke desa-desa dengan melibatkan Dinas Kesehatan serta pemerintah setempat.
Program tersebut dirancang sebagai langkah preventif untuk mendeteksi potensi penyalahgunaan sejak dini sekaligus memberikan edukasi langsung kepada masyarakat desa mengenai dampak narkoba terhadap kesehatan dan kehidupan sosial.
“Ke depan, kita berencana melaksanakan tes urine terhadap anak-anak yang ada di desa-desa dengan berkoordinasi bersama dinas kesehatan. Arahnya memang lebih ke pencegahan sejak dini,” tambah Ferey.
Selain fokus pada pencegahan, BNN Tanah Laut juga terus mempersiapkan operasional Balai Rehabilitasi Narkotika atau Rumah Napza yang selama ini dinantikan masyarakat.
Menurut Ferey, pembangunan fisik gedung rehabilitasi telah selesai, namun masih diperlukan sejumlah kesiapan pendukung sebelum fasilitas tersebut dapat dioperasikan secara maksimal.
Beberapa hal yang masih dipersiapkan meliputi pemenuhan sarana dan prasarana rehabilitasi, kesiapan tenaga medis dan sumber daya manusia, hingga dukungan anggaran operasional agar pelayanan rehabilitasi dapat berjalan optimal.
Keberadaan Rumah Napza nantinya diharapkan menjadi solusi bagi masyarakat Tanah Laut yang membutuhkan layanan rehabilitasi tanpa harus dirujuk ke luar daerah. Hal ini juga menjadi bagian penting dalam pendekatan humanis penanganan korban penyalahgunaan narkoba.
“Secara umum gedungnya sudah ada. Sekarang kita sedang mendorong pemenuhan sarana prasarana, SDM pelaksana, serta anggaran operasionalnya agar fasilitas tersebut segera bisa dimanfaatkan masyarakat,” ungkapnya.
Ferey menambahkan, seluruh program yang telah dirancang dalam RAD P4GNPN 2026 ditargetkan segera berjalan setelah mendapatkan pengesahan resmi dari kepala daerah.
Ia optimistis implementasi program dapat dilakukan dalam waktu dekat mengingat koordinasi lintas sektor telah terbentuk dengan baik.
Menurutnya, percepatan pelaksanaan program menjadi penting mengingat ancaman narkoba terus berkembang dan menyasar berbagai kalangan tanpa memandang usia maupun latar belakang sosial.
“Aksi ini akan segera kita mulai. Saat ini tinggal menunggu pengesahan dari bapak bupati, dan diupayakan dalam waktu dekat program-programnya sudah berjalan,” pungkas Ferey.
Melalui penyusunan RAD P4GNPN 2026 ini, Pemerintah Kabupaten Tanah Laut bersama BNN berharap tercipta sistem pencegahan narkoba yang lebih terstruktur, masif, dan menyentuh langsung masyarakat hingga tingkat akar rumput.
Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi ancaman penyalahgunaan narkotika yang terus berkembang dari waktu ke waktu.
Halaman : 1 2















