Batola – Ancaman radikalisme tidak selalu hadir dalam bentuk yang terlihat. Di era digital, paham intoleransi dan radikalisme dapat masuk secara perlahan melalui layar telepon genggam, media sosial, hingga ruang digital yang setiap hari dekat dengan kehidupan anak-anak dan generasi muda.
Keresahan inilah yang menjadi perhatian dalam Sosialisasi Anti Radikalisme Kabupaten Barito Kuala Tahun 2026 yang dilaksanakan di Aula Selidah Sekretariat Daerah Kabupaten Barito Kuala, 16 September 2026. Kegiatan tersebut sekaligus dirangkai dengan Launching dan Sosialisasi KOMPAK BATOLA (Komitmen dan Toleransi dalam Penguatan Kerukunan Pemeluk Agama).
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Barito Kuala menekankan bahwa perkembangan teknologi harus diimbangi dengan kewaspadaan. Anak-anak dan generasi muda dapat memperoleh informasi dari internet dengan sangat mudah, termasuk informasi yang mengandung kebencian, provokasi maupun pemahaman yang tidak sesuai dengan nilai kebangsaan. Karena itu, keluarga, sekolah, tokoh agama, pemerintah dan masyarakat tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.
Ketua FKPT Kalimantan Selatan juga mengingatkan bahwa media sosial menjadi salah satu ruang yang dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan narasi intoleransi dan radikalisme. Pelajar dan generasi muda perlu memiliki kemampuan memeriksa informasi, membandingkan sumber, serta tidak terburu-buru membagikan konten yang belum terverifikasi.
Pesan yang sederhana namun penting digaungkan: “Saring sebelum sharing.” Informasi yang salah mungkin hanya membutuhkan satu sentuhan untuk menyebar, tetapi dampaknya dapat memicu kesalahpahaman dan merusak hubungan sosial.
Sementara itu, Densus 88 AT Polri menyampaikan bahwa perkembangan ancaman saat ini semakin bergeser ke ruang digital. Sekolah dan lingkungan remaja menjadi salah satu ruang penting dalam upaya pencegahan, sehingga guru, orang tua dan lingkungan sekitar perlu mengenali tanda-tanda awal intoleransi dan memberikan pendampingan secara tepat.
Melalui KOMPAK BATOLA, masyarakat diajak membangun kebiasaan sederhana: Komunikasi Santun, Olah Informasi, Mari Bersilaturahmi, Peduli Sesama, Aksi Gotong Royong, dan Komitmen Perdamaian. Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi kebiasaan yang tumbuh dari keluarga, sekolah, lingkungan kerja hingga masyarakat.
Menjaga Barito Kuala tetap aman bukan hanya tugas pemerintah. Ini adalah tanggung jawab kita bersama. Perbedaan suku, agama, budaya maupun pandangan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh. Justru dari perbedaan itulah persaudaraan, toleransi dan gotong royong harus semakin kuat.
Mari lindungi anak-anak kita. Mari bijak bermedia sosial. Mari hentikan provokasi sebelum menjadi perselisihan. Dan mari menjadi bagian dari masyarakat yang menyebarkan kesejukan, bukan kebencian.
Beda baju, beda pekerjaan, beda cara berdoa, tetapi tujuan kita satu: menjaga Barito Kuala tetap aman, rukun, damai, dan nyaman untuk semua.















