Banjar – Kantor Kepala Desa Sungai Sipai, Kecamatan Martapura, ramai oleh warga pada Senin (20/7/2026). Sebanyak 50 peserta yang terdiri atas kelompok petambak, pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Kepala Desa, hingga seluruh staf desa se-Kecamatan Sungai Sipai hadir mengikuti workshop dan pelatihan pembuatan biochar bersama Carbon Circle Community (CCC), tim mahasiswa peraih penghargaan nasional pada ajang Bumi Berseru Fest Telkom Indonesia.
Kegiatan ini merupakan bentuk pertanggungjawaban dan tindak lanjut dari rangkaian program Bumi Berseru Fest 2025 kategori Teknologi Hijau & Inovasi Berkelanjutan dari Telkom Indonesia. Pada ajang bergengsi tersebut, Carbon Circle Community, kelompok mahasiswa keperawatan yang berkolaborasi lintas disiplin, berhasil keluar sebagai pemenang tingkat nasional lewat inovasi Biochar Carbon Cube (BCC), sebuah teknologi filtrasi air berbasis biochar yang terintegrasi sistem monitoring Internet of Things (IoT) untuk memperbaiki kualitas air tambak. Prestasi ini sekaligus menjadi bukti nyata dukungan Telkom Indonesia terhadap lahirnya inovasi teknologi hijau berbasis komunitas dari kalangan generasi muda.
Kepala Desa Sungai Sipai membuka secara resmi acara, yang dalam sambutannya menyambut baik kehadiran program inovasi teknologi hijau ini di wilayahnya. Setelah sesi pembukaan dan registrasi peserta, acara berlanjut dengan pemaparan materi utama bertajuk “Mengubah Limbah Menjadi Berkah: Workshop Pembuatan Biochar Bersama Carbon Circle Community” yang disampaikan oleh Arifah Pagis, S.T.
Dalam paparannya, Arifah menjelaskan proses pengolahan biomassa lokal, khususnya tempurung kelapa, menjadi biochar melalui metode pirolisis, serta bagaimana material karbon berpori tersebut dapat dimanfaatkan sebagai media filtrasi air yang efektif, murah, dan ramah lingkungan.
Materi kedua disampaikan oleh Ahmad Bambang Wirayudha, mahasiswa Keperawatan yang juga merupakan bagian dari tim proyek BCC. Ia memaparkan penerapan teknologi Biochar Carbon Cube secara langsung di lapangan, termasuk cara kerja sistem filtrasi dan integrasi sensor IoT untuk memantau parameter kualitas air seperti pH, kekeruhan, suhu, dan oksigen terlarut (DO) secara real-time.
Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya menerima penjelasan teoritis, tetapi juga mendapatkan pemahaman dan keterampilan praktis dalam proses pembuatan biochar, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pirolisis, hingga aplikasinya sebagai media filtrasi air tambak.
Program Biochar Carbon Cube sebelumnya telah diimplementasikan sebagai proyek percontohan di tambak mitra Desa Cindai Alus, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar dengan melibatkan tiga orang petambak aktif dan dua unit kolam tambak percontohan. Hasil monitoring selama periode implementasi menunjukkan adanya penurunan tingkat kekeruhan air, kestabilan pH pada kisaran optimal budidaya, serta data kualitas air yang lebih terpantau dan terdokumentasi berkat dashboard monitoring berbasis IoT.
Ketua Kelompok Proyek CCC, M. Akbar Renaldi, menyampaikan bahwa workshop di Desa Sungai Sipai ini merupakan wujud komitmen tim untuk memastikan manfaat teknologi BCC dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat, tidak hanya sebatas pada lokasi pilot project. Kegiatan ini juga menjadi ruang transfer pengetahuan agar warga desa, khususnya kelompok petambak dan pengurus BUMDes, mampu memproduksi dan mengaplikasikan biochar secara mandiri sebagai solusi pengelolaan kualitas air yang berkelanjutan.
Proyek BCC sendiri merupakan kelanjutan dari inovasi serupa yang telah lebih dulu diusung pada rangkaian kompetisi sebelumnya, dengan dukungan pendampingan dari dosen Program Studi Keperawatan, Ns. Hamka, M.Kep., RN., WOC(ET)N.
Kepala Desa Sungai Sipai menyatakan apresiasinya atas inisiatif mahasiswa yang membawa inovasi teknologi hijau langsung ke tengah masyarakat. Ia berharap kolaborasi semacam ini dapat terus berlanjut, mengingat isu kualitas air tambak menjadi salah satu tantangan nyata yang dihadapi warga di wilayah Desa Sungai Sipai.
Kehadiran perwakilan BUMDes dalam kegiatan ini juga membuka peluang pengembangan biochar sebagai potensi usaha desa ke depannya, mengingat bahan baku berupa limbah biomassa seperti tempurung kelapa tersedia melimpah di wilayah tersebut.
Program Biochar Carbon Cube dikembangkan melalui dua fase proyek oleh mahasiswa yang tergabung dalam Carbon Circle Community. Pada proyek kedua, tim beranggotakan M. Akbar Renaldi, Irvan Maulana, Arfan Nurdiansyah, Muhammad Rizwal Yunadi Achmal, Ahmad Bambang Wirayudha, Win Muhammad Abdul Jabbar, Khairunnisa, Putri Amelia, Talitha Cempaka Candraningtiyas, Siti Aisyah, Siti Patimah, Merina Salva Puteri, dan Azkia, dengan pendampingan Ns. Hamka.
Sementara pada proyek pertama, tim terdiri dari Rufaida, Rahma Novita Azahra, Titra Handayani, Salma Nur Azkia, Bima Dwi Saputra, Aisyaturridha, Yulia Grasella, Zaida Hayati, Saidatina Aminah, Aurora Levina Nandatama, Naura Anisa Qothrunnada, dan Siti Fauziah.
Dalam proses pembuatan alat, tim CCC juga dibantu oleh tim produksi lintas fakultas dari Fakultas Teknik, yaitu Arifah Pagis, S.T., Taufik Kurniawan Eka Putra, Muhammad Basyir Munira, Syai’in Mujahidin, dan Alif Reza Adzany Hafit.
Dengan terselenggaranya workshop ini, Carbon Circle Community berharap semangat inovasi teknologi hijau berbasis komunitas yang telah diapresiasi oleh Telkom Indonesia melalui Bumi Berseru Fest dapat terus tumbuh dan direplikasi di desa-desa lain, sejalan dengan upaya mendorong pengelolaan sumber daya air yang lebih berkelanjutan di Kalimantan Selatan.















