Banjar – Anemia masih menjadi persoalan kesehatan serius pada anak balita, terutama yang mengalami malnutrisi. Berdasarkan data WHO, prevalensi anemia pada balita Indonesia mencapai 36,8 persen. Kondisi ini dapat menghambat tumbuh kembang anak sehingga membutuhkan penanganan yang tepat.
Sebagai wujud kontribusi dunia akademik dalam upaya perbaikan gizi masyarakat, tiga dosen dari Program Studi Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) bersama sejumlah mahasiswa menggelar kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Optimalisasi Pencegahan Anemia pada Anak Malnutrisi”.
Kegiatan PDWA dilaksanakan di Posyandu 5 (Pink), Desa Keliling Benteng Ulu, Kecamatan Martapura Barat. Sebanyak 60 ibu dan balita dengan risiko anemia akibat malnutrisi ikut serta dalam kegiatan ini.
Kegiatan dimulai dengan skrining kesehatan yang dilakukan oleh Sapariah Anggraini, S.Kep., Ns., M.Kep., mencakup pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas (LiLA), serta pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) pada balita.
Edukasi Gizi: Dari Anemia hingga MPASI Seimbang
Setelah skrining, para ibu mengikuti sesi edukasi kesehatan mengenai tanda-tanda anemia dan pentingnya gizi seimbang. Materi disampaikan oleh Windy Yuliana Budianto, S.Kep., Ns., M.Biomed, yang menjelaskan hubungan anemia dan malnutrisi, serta pentingnya pemberian MPASI yang bergizi.
Rifda Nur Achriyana Arif, S.Kep., Ns., M.Kep., memperagakan piramida makanan dengan menggunakan bahan pangan lokal yang mudah ditemukan dan murah. Demonstrasi ini membantu peserta memahami komposisi karbohidrat, protein, serat, dan lemak sesuai kebutuhan balita.
Peserta juga menerima resep MPASI bergizi yang dapat langsung diaplikasikan di rumah, seperti kombinasi bubur beras, hati ayam, dan sayuran hijau kaya zat besi. Para ibu tampak antusias, terutama dalam sesi tanya jawab.
Untuk menilai efektivitas edukasi, peserta diminta mengisi pre-test sebelum edukasi dan post-test setelahnya. Hal ini dilakukan guna mengukur peningkatan pemahaman para ibu terkait materi yang diberikan.
Harapan dan Testimoni Peserta
“Kami berharap kegiatan ini dapat mendorong perubahan perilaku ibu dalam menyiapkan makanan bergizi bagi anaknya. Dengan begitu, anemia dapat dicegah sejak dini,” ujar Windy Yuliana Budianto.
Salah satu peserta, Ibu Rina, mengaku kegiatan ini sangat bermanfaat.
“Saya jadi tahu cara membuat MPASI dari bahan-bahan di sekitar rumah. Tidak perlu mahal, yang penting gizinya cukup,” ujarnya.
Program ini tak hanya memberikan edukasi, tetapi juga memperkuat peran dosen dan mahasiswa dalam mendukung Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi. Ke depan, tim pengabdian merencanakan pendampingan lanjutan untuk memantau penerapan MPASI sehat oleh para ibu di rumah.















